Apa itu Pig Butchering Scam atau Penipuan Potong Babi? Pengertian, Ciri, dan Cara Menghindarinya!

Default

Baru-baru ini, modus penipuan dengan skema Pig Butchering sukses menggemparkan publik. Tidak hanya di luar negeri, namun fenomena ini juga telah memakan korban di dalam negeri.

Korban yang dimaksud adalah seorang perempuan bernama AA (disamarkan) asal Pengalengan, Jawa Barat yang harus kehilangan aset finansial mencapai Rp550 juta. Hal itu dialaminya setelah berkenalan melalui direct message (DM) Instagram dengan pria yang mengaku dari Korea Selatan.

Buat yang belum tahu, Pig Butchering adalah salah satu modus penipuan online yang marak di dunia investasi mata uang kripto (cryprocurrency). Biasanya, si pelaku akan lebih dulu membangun kepercayaan kepada korban. Setelah korban merasa yakin, barulah si penipu akan melancarkan jurus-jurusnya untuk memengaruhi korban.

Tentu kamu tidak boleh menjadi korban selanjutnya. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini Jaka bakal membahas seputar Pig Buthcering, mulai dari definisi, ciri-ciri, hingga cara menghindarinya. Simak dengan seksama, ya!

Apa itu Pig Butchering?

Ciri Ciri Penipuan Melalui Media Sosial
Sumber foto: IST - Pig Butchering

Mungkin kebanyakan dari kamu masih asing dengan istilah ini. Pig Butchering artinya memang adalah "potong babi", namun itu bila diartikan secara harfiah.

Tapi dalam dunia cryptocurrency, Pig Butchering merupakan tindak penipuan alias scammer. Istilah ini berasal dari cara peternak yang menggemukkan babinya sebelum disembelih agar bisa menghasilkan daging yang banyak.

Jika diumpamakan dalam kasus yang dialami AA, peternak digambarkan sebagai pelaku penipuan. Sementara babi merepresentasikan investor korban penipuan yang berhasil "digemukkan" melalui janji-janji manis.

Sebagai contoh, korban awalnya akan dijanjikan bakal mendapatkan keuntungan besar apabila melakukan investasi kripto. Padahal, platform investasi yang disebutkan ternyata merupakan portal tidak resmi, bahkan bodong.

Tidak sesimpel itu. Korban pun pada awalnya akan "diajak" untuk menikmati hasil keuntungan dalam jumlah berkali-kali lipat. Keuntungan itu juga sangat mungkin terus berlipat ganda hingga korban benar-benar yakin bahwa program investasi yang diikutinya legit dan resmi.

Hingga si penipu sudah merasa berada dalam posisi yang tepat, sang investor atau korban tersebut akan disembelih alias ditipu habis-habisan karena uang yang diinvestasikan raib tak bersisa.

Itulah yang terjadi pada AA. Lantaran sudah merasa yakin dan percaya dengan investasi yang diikutinya, ia justru menjadi korban modus penipuan orang asing asal Korea Selatan setelah menggelontorkan dana ratusan juta.

Beda Pig Butchering dan Romance Scam

Korban Scammer Cinta
Sumber foto: IST - Romance Scam

Selain skema Pig Butchering, Biro Investasi Federal (FBI) Amerika Serikat juga pernah mengungkapkan adanya modus penipuan kripto lainnya yang kerap disebut Romance Scam atau scammer cinta. Namun, tak sedikit orang yang masih bingung membedakan keduanya.

Jika Pig Butchering lebih mengandalkan teknik rekayasa sosial untuk memanipulasi psikologis korban dengan cara membangun kepercayaan, maka cara kerja scammer cinta lebih berkedok asmara.

Selain itu, kasus yang menimpa korban scammer cinta lebih banyak terjadi di situs atau aplikasi kencan, salah satunya seperti aplikasi Tinder.

Memang, modus penipuan cinta di Facebook, Instagram, atau media sosial lainnya juga pernah terjadi. Yang jelas, si pelaku nantinya akan menggunakan ilusi hubungan romantis untuk memanipulasi korban.

Penipu pun akan tampak sangat tulus, peduli, bisa dipercaya, bahkan akan menjanjikan hubungan serius dan jangka panjang hingga ke jenjang pernikahan. Setelah korban jatuh cinta, maka si penipu akan melancarkan aksinya dengan "memeras" aset kripto korban. Jadi sudah tahu, kan, bedanya?

Ciri-Ciri Penipuan Melalui Media Sosial dengan Skema Pig Butchering

Pig Butchering Adalah
Sumber foto: dok. AA - Korban Pig Butchering

Pig Butchering scam biasanya dilakukan dengan cara yang sangat terorganisir dan juga sistematis. Jadi, kamu gak boleh anggap remeh modus seperti ini.

Nah, pada dasarnya, ada beberapa ciri-ciri penipu dari luar negeri maupun Indonesia yang mengandalkan teknik potong babi ini. Supaya bisa lebih waspada, kenali cirinya, yuk!

1. Pakai Identitas Palsu

Karena bermula dari media sosial, penipu dengan skema potong babi biasanya akan memulai aksinya dengan identitas online palsu. Kamu mungkin bisa mengenali wajah penipu dunia maya, tapi tidak bisa mengetahui identitas asli mereka.

Biasanya, mereka akan memperlihatkan persona seolah sebagai orang kaya yang kerap hidup glamor. Mereka bahkan memiliki banyak foto-foto keren untuk memikat mata banyak orang.

2. Mengajak Korban Berkenalan

Para penipu ini biasanya akan memulai kontak dengan target korban mereka. Biasanya akan dimulai melalui pesan pribadi di jejaring sosial. Modusnya bisa sekedar ingin berbincang ringan seputar topik tertentu yang berkaitan dengan kehidupan korban.

Selain itu, penipu juga sangat mungkin menggunakan nomor WhatsApp dengan berpura-pura baru saja mengirim pesan ke nomor yang salah. Namun, langkah itu juga dijadikan sebagai momen untuk berkenalan dengan korban, loh.

3. Membangun Kepercayaan

Bisa ditebak jika selanjutnya mereka akan memulai percakapan dengan calon korban untuk mendapatkan kepercayaan. Obrolan bisa dimulai seputar kehidupan, keluarga, dan pekerjaan.

Tujuannya, penipu ingin mengumpulkan informasi kehidupan calon korban untuk nantinya dimanfaatkan sebagai bahan memanipulasi. Penipu pun akan mengarang cerita tentang kehidupannya agar seolah-olah punya nasib yang mirip dengan korban.

Ya, secara psikologis, orang akan lebih mudah dekat dengan orang baru karena punya nasib yang dirasa sama dengannya.

4. Mengajak Investasi Kripto

Setelah korban berhasil "diperdaya", penipu lalu mulai melangsungkan jurus utamanya, yaitu mengajak target untuk berinvestasi kripto. Penipu akan membuat klaim bahwa ia berhasil mengubah nasibnya karena investasi tersebut.

Supaya semakin yakin, mereka juga tak segan membagikan tangkapan layar atau SS dari akun investasi kripto dengan angka fantastis, loh. Tentu saja, platform yang digunakan adalah platform palsu yang sengaja disiapkan untuk menjaring korban.

Namun, korban biasanya berhasil dibuat percaya dengan bujuk rayu yang ada. Korban bahkan cenderung melihat bahwa platform yang ditunjukkan benar-benar resmi dan bisa mendatangkan keuntungan besar.

5. Meyakinkan Korban Bahwa Investasinya Legit

Ciri Ciri Penipu Dari Luar Negeri
Sumber foto: IST - Penipuan Potong Babi

Setelah korban ikut menanamkan modalnya ke platform yang disediakan, si pelaku akan lebih dulu memberikan angin segar dengan mengirimkan hasil investasi ke rekening korban. Korban yang menerima aset finansialnya jadi berlipat ganda pun akan merasa senang.

Tapi, korban selanjutnya akan semakin dibujuk untuk menginvestasikan uang dalam jumlah lebih banyak dan menahan uangnya hingga keuntungannya jadi lebih besar lagi.

Secara emosional, penipu bahkan akan mendorong korban untuk mengambil pinjaman di bank, menguras tabungan yang ada, menjual rumah atau kendaraan, hingga menggadaikan aset yang dimiliki.

6. Kabur dan Memutuskan Kontak dengan Korban

Jika target telah mencapai batasnya dan tidak mau menyetor lebih banyak uang, maka penipu pada akhirnya akan kabur dengan cara memutuskan hubungan pertemanan dan jalur komunikasi dengan korban.

Setelah itu, korban pun tidak bisa lagi mengajukan penarikan dana yang sudah diinvestasikan. Atau dengan skenario lagi, investasi korban dibuat seolah mengalami kerugian besar sehingga seluruh asetnya jadi hangus.

Cara Agar Tidak Menjadi Korban Pig Butchering

Pig Butchering Artinya
Sumber foto: IST - Pig Butchering

Mengetahui ciri-ciri scammer Indonesia dan luar negeri di dunia kripto saja tidak cukup. Agar kamu semakin dijauhkan dari penipuan semacam ini, kamu juga perlu tahu bagaimana cara menghindari scammer.

Seiring dengan penipuan Pig Butchering yang semakin marak di platform digital, berikut Jaka bagikan sejumlah tips agar kamu bisa terhindar dari modus ini.

1. Jangan Mudah Berinteraksi di Internet

Saat ini, siapa saja bisa saling berinteraksi di internet, tak terkecuali bagi penipu. Oleh karena itu, jangan mudah percaya soal identitas pengguna, seperti profil, foto, dan informasi siapa pun di internet.

Kalau perlu, kamu juga perlu mengecek latar belakang setiap orang yang berhubungan dengan kamu internet. Kalau memungkinkan, cek dengan siapa saja dia berteman, keluarganya, hingga pekerjaan yang ia geluti.

2. Jangan Mudah Tergiur Tawaran atau Janji Manis

Selanjutnya, kamu harus selalu waspada dengan orang asing atau yang tidak dikenal ketika memberikan tawaran menggiurkan. Pasalnya, hal ini selalu berkaitan dengan kebutuhan dasar seperti uang, makanan, hubungan emosional, dan sebagainya.

Apabila tawaran tersebut berkaitan platform investasi, cek apakah platform yang dipakai resmi. Untuk di Indonesia, kamu bisa melihat apakah platform-nya sudah terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) atau belum. So, kamu harus rasional, ya.

Untuk pembahasan lebih detail seputar cara menghindari scammer di internet, langsung aja cek artikel di bawah ini:

Akhir Kata

Itulah tadi pembahasan mendalam Jaka seputar fenomena penipuan dalam dunia kripto yang dikenal dengan sebutan Pig Butchering. Dengan mengetahui definisi, ciri-ciri, hingga tips menghindarinya, semoga dengan begitu kamu tidak ikut menjadi korban.

Sekali lagi saran dari Jaka, tetap waspada ketika berkenalan dengan orang asing di media sosial dan jangan mudah tergiur iming-iming keuntungan besar dengan cara mudah, ya. Semoga bisa dipahami!

Tautan berhasil disalinX
x

Keluar dari JalanTikus

Popup External Background JalanTikus

Apakah anda yakin untuk meninggalkan website JalanTikus?

Ya
Batal