Seorang pria dengan gelar doktor terpaksa bekerja sebagai penjaga toko fotokopi dan alat tulis kantor (ATK) setelah sulit mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan gelarnya. Kisahnya menjadi viral di media sosial dan mengundang perhatian banyak orang setelah dibagikan di Facebook.
Seorang pria Malaysia bernama Mohd Yazid Ismail mengaku bahwa ini adalah cerita pribadi seorang rekannya di tengah kesulitan mencari pekerjaan.
"Teman saya di sini, memiliki gelar PhD bidang teknik, lulus pada 2018. Namun, setelah menyelesaikan PhD hingga saat ini dia hanya bekerja di toko fotokopi. Gajinya bahkan tidak mencapai 3.000 ringgit," tulisnya di laman Facebook pada tanggal 8 Juni lalu.

Bekerja di toko fotokopi selama 6 tahun, pria ini telah mencoba mencari pekerjaan yang sesuai dengan gelar PhD-nya dalam bidang teknik. Namun, sulitnya situasi pekerjaan di Malaysia membuatnya terpaksa mengambil pekerjaan tersebut untuk menafkahi keluarganya.
Yazid juga menegaskan bahwa rekannya itu bukanlah pemilik, melainkan hanya karyawan fotokopi. Meskipun demikian, dia tetap hidup sederhana dan tidak memiliki utang apapun. Sebagian dari penghasilannya digunakan untuk berinvestasi dalam trading.

Pria ini telah mengirim lamaran ke berbagai perusahaan, namun belum mendapatkan panggilan kerja yang sesuai dengan kualifikasinya. Salah satu alasan mungkin karena gelarnya yang terlalu tinggi.
Meskipun menghadapi kesulitan dalam karirnya, pria ini tetap optimis dan berusaha menjalani hidup dengan damai tanpa utang. Dia adalah contoh inspiratif bagi banyak orang yang mungkin juga sedang mengalami kesulitan dalam mencari pekerjaan yang sesuai dengan kualifikasi mereka.
Kisah pria bergelar doktor ini menjadi peringatan bahwa gelar tinggi tidak selalu menjamin kesuksesan dalam karir. Terkadang, situasi ekonomi dan persaingan kerja yang ketat dapat menghalangi seseorang dari mendapatkan pekerjaan yang diinginkan.
Semoga kisah ini bisa memberikan inspirasi dan semangat bagi semua orang yang sedang mencari pekerjaan atau menghadapi kesulitan dalam karir mereka.

