Tim peneliti NASA berhasil mengidentifikasi sumber air terbesar yang pernah ditemukan di luar angkasa. Penemuan ini merupakan hasil kerja keras dua tim astronom selama tiga tahun, dipimpin oleh Matt Bradford dari Jet Propulsion Laboratory NASA di Pasadena, California.
Observasi awal dimulai pada tahun 2008 menggunakan teleskop setinggi 33 kaki di dekat puncak Mauna Kea, Hawaii. Penelitian kemudian dilanjutkan dengan serangkaian antena parabola di Pegunungan Inyo, California Selatan. Tim kedua, yang dipimpin oleh Dariusz Lis dari Caltech, menggunakan Plateau de Bure Interferometer di Pegunungan Alpen Prancis untuk memverifikasi temuan tersebut.
Cadangan air yang ditemukan memiliki volume luar biasa, setara dengan 140 triliun kali lipat jumlah air di seluruh lautan bumi. Terletak lebih dari 12 miliar tahun cahaya dari Bumi, air ini mengelilingi lubang hitam besar yang dikenal sebagai quasar, objek langit raksasa yang memancarkan energi dalam jumlah besar.

Bradford menekankan keunikan lingkungan di sekitar quasar yang memungkinkan produksi air dalam jumlah besar. "Ini merupakan bukti lain bahwa air tersebar di seluruh alam semesta, bahkan pada masa paling awal," ujarnya dalam siaran pers tahun 2011.
Penemuan ini mematahkan asumsi sebelumnya tentang keberadaan uap air di awal pembentukan alam semesta. Meskipun air telah ditemukan di tempat lain di galaksi Bima Sakti, sebagian besar dalam bentuk es.

Analisis lebih lanjut mengungkapkan bahwa quasar secara efektif menyinari gas di sekitarnya dengan sinar-X dan radiasi infra merah. Meski suhu gas mencapai minus 53 derajat Celsius dan kepadatannya 300 triliun kali lebih kecil dari atmosfer Bumi, gas tersebut masih lima kali lebih panas dan 10 hingga 100 kali lebih padat dibandingkan galaksi Bima Sakti.
Penemuan ini membuka wawasan baru tentang distribusi air di alam semesta dan proses pembentukan galaksi pada masa awal. Para ilmuwan berharap temuan ini dapat membantu memahami lebih dalam tentang evolusi alam semesta dan potensi keberadaan kehidupan di luar Bumi.

