Saat ini, Gus Iqdam telah menjadi perbincangan hangat di media sosial karena ceramah-ceramahnya yang menginspirasi. Anak muda dari berbagai latar belakang begitu antusias mendengarkan setiap dakwahnya.
Tak hanya populer di media sosial, Gus Iqdam juga memiliki ribuan jemaah yang setia hadir dalam acara pengajian rutin di kediamannya. Jemaah tersebut berasal dari berbagai latar belakang sosial dan budaya, bahkan ada yang datang dari luar daerah dan luar negeri.
Pengajian rutin bertajuk "Dekengan Pusat" di Pondok Pesantren Mambaul Hikam II Karanganyar Blitar setiap Senin malam juga merupakan momen yang dinanti-nantikan jemaah. Pengajian ini disertai dengan pembacaan salawat dari grup hadrah Sabilu Taubah. Jemaah yang menyebut dirinya sebagai ST Nyell merupakan bagian tak terpisahkan dari pengajian tersebut.
Gus Iqdam, yang memiliki nama asli Muhammad Iqdam Khalid, lahir pada 27 September 1994. Ia merupakan anak dari seorang kyai Pondok Mamba'ul Hikam II desa Karanggayam, kecamatan Srengat, kabupaten Blitar bernama Khalid.
Gus Iqdam sebetulnya merupakan orang yang biasa-biasa saja. Dia dikenal dengan sebutan Gus karena ia adalah cucu dari kiai yang bernama Romo Kiai Zubaidil Abdul Ghofur. Kiai ini adalah anak dari Kiai Ghofur, yang merupakan pendiri Pesantren Mambaul Hikam Mantenan Blitar, salah satu pesantren tertua di Blitar bagian barat sekaligus Mursyid Thoriqoh.
Kemudian, Kiai Abdul Ghofur memiliki seorang putri yang menjadi ibu dari Gus Iqdam. Gus Iqdam dilahirkan sebagai anak bungsu oleh ibunya. Melalui garis keturunan keluarga tersebut, Iqdam dijuluki sebagai Gus.
Menurut informasi dari nuo.or.id, Gus Iqdam dikenal sebagai anak yang paling nakal di antara saudara-saudaranya karena hobinya yang suka balapan. Saat itu, dia belum mengerti benar makna panggilan 'Gus' untuk dirinya dan bahkan dianggapnya hanya sebagai lelucon belaka.
Meski memiliki tiga saudara yang sukses dalam kehidupan, Gus Iqdam sendiri belum meraih kesuksesan seperti mereka. Saudara pertamanya adalah seorang hafidzoh yang menghafal Al-Quran, saudara kedua sedang mengejar studi di Universitas Brawijaya sambil mondok di Malang, dan saudara ketiganya memiliki suami yang juga alumni pondok dan hafidzoh Al-Quran.
Awalnya, Gus Iqdam tidak tertarik untuk mondok karena hobinya dengan motor. Namun, atas desakan ayahnya, dia akhirnya mengikuti mondok, meskipun pada awalnya hanya untuk memenuhi keinginan sang ayah tanpa niat mendalami ilmu. Kemudian, dia memahami alasan sebenarnya mengapa sang ayah memintanya untuk mondok. Akhirnya, setelah lulus dari Madrasah Tsanawiyah (MTs), ia mulai melakukan mondok secara serius di Queen Al-Falah Ploso Kediri.
Dengan penambahan 'Gus' di depan namanya, Iqdam berusaha keras untuk membuktikan bahwa panggilan tersebut bukan hanya sebatas sebutan. Bagi Gus Iqdam, menjadi seorang Gus berarti minimal memiliki kegiatan mengaji atau berjuang untuk umat.
Secara bertahap, dia mulai mendalami ilmu agama lebih dalam dan mendirikan majelis taklim Sabilu Taubah. Majelis ini menjadi jalan pertaubatan bagi anak-anak jalanan, anak marginal, dan anak yang memiliki latar belakang kriminal.
Gus Iqdam juga pernah menjadi sorotan ketika mengalami pengalaman tidak menyenangkan di Bandara Soekarno-Hatta. Namun, peristiwa tersebut kemudian diselesaikan dengan damai setelah Kepala Imigrasi Soekarno-Hatta, Muhammad Tito Andrianto, menyampaikan permohonan maaf secara langsung kepada Gus Iqdam.
Gus Iqdam, lebih dari sekadar seorang pendakwah muda, ia adalah simbol perjuangan dan keberhasilan dalam memperjuangkan ajaran agama serta memperbaiki diri. Semoga kisah inspiratifnya dapat terus menginspirasi banyak orang dan membawa manfaat bagi masyarakat.
Baca artikel dan berita menarik dari JalanTikus lainnya di Google News

