Menguak Asal-Usul Sei, Awalnya Bukan Dibuat dari Babi

Default

Sebagai warisan kuliner dari Nusa Tenggara Timur (NTT), sei telah mencuri perhatian para penikmat kuliner dalam beberapa tahun terakhir. Daging asap yang diiris tipis ini tidak hanya menjadi kegemaran di NTT, namun juga semakin mudah ditemukan di berbagai kafe dan restoran di luar wilayah tersebut.

Apry Johannis Messah, pemilik Casa Blanco Cafe & Resto, membuka tabir tentang keunikan sei asli Kupang, NTT, termasuk aroma, warna, dan rasa yang membedakannya. Berikut adalah fakta menarik seputar sei yang diungkapkan oleh Apry.

1. Asal-usul Sei dari Daging Babi

Sei pertama kali diciptakan oleh masyarakat pedalaman Timur, namun yang menarik, awalnya sei dibuat dari daging babi hutan. Apry menjelaskan bahwa pemilihan daging babi hutan dilakukan karena memiliki tekstur yang lebih keras dan kandungan lemak yang khas.

Sei dari babi terlihat lebih pucat dibandingkan dengan sei dari daging sapi, yang cenderung merah saat matang.

Meskipun seiring waktu beralih ke penggunaan daging sapi, pentingnya memastikan kehalalan makanan tetap menjadi fokus utama agar sei dapat dinikmati oleh semua kalangan.

  1. Proses Pengasapan dengan Kayu Kosambi

Pentingnya pemilihan bahan bakar untuk pengasapan daging sei juga menjadi sorotan. Masyarakat NTT umumnya menggunakan kayu kosambi sebagai bahan bakar untuk menghasilkan asap yang memberikan karakteristik khas pada sei.

Apry menjelaskan bahwa kayu kosambi, yang berasal dari India, tumbuh subur di tanah kering dan tandus, membuatnya cocok untuk proses pengasapan daging sei.

Asap yang dihasilkan dari kayu kosambi kemudian digunakan untuk mematangkan daging sehingga menciptakan kelembutan yang unik.

3. Sentuhan Kayu Lamtoro dalam Pengasapan

Proses pengasapan daging sei tidak berhenti pada kayu kosambi. Apry memberikan wawasan bahwa penggunaan kayu lamtoro juga menjadi bagian penting dari proses tersebut.

Tungku setinggi 80 sentimeter digunakan, dengan batang kayu kosambi ditaruh di bawahnya, sementara di atasnya disusun kayu lamtoro.

Daging sei yang telah dipotong memanjang diletakkan di atas kayu lamtoro, dan ditutup dengan daun kosambi untuk menciptakan aroma yang begitu khas, membedakan sei NTT dengan varian sei lainnya, terutama yang dihasilkan di Jawa.

Dengan begitu, keberhasilan sei NTT tidak hanya terletak pada rasa dan aroma, tetapi juga pada proses tradisional yang melibatkan pemilihan bahan baku yang tepat serta teknik pengasapan yang unik.

Inilah yang membuat sei NTT menjadi pilihan istimewa bagi pecinta kuliner yang mencari pengalaman gastronomi yang autentik dan berbeda.

Tautan berhasil disalinX
x

Keluar dari JalanTikus

Popup External Background JalanTikus

Apakah anda yakin untuk meninggalkan website JalanTikus?

Ya
Batal