Studi oleh peneliti dari Human Flourishing Program di Harvard University mengemukakan kemungkinan alien telah hidup di Bumi dalam waktu terbatas. Makalah yang belum ditinjau sejawat ini menyebutkan bentuk kehidupan dari dunia lain mungkin ada di bawah tanah Bumi atau di dalam Bulan. UFO atau unidentified anomalous phenomena (UAP) bisa menjadi bukti keberadaan mereka.
UAP mengacu pada fenomena penampakan benda terbang atau objek lain yang tidak bisa diidentifikasi oleh pengamat, bahkan setelah diselidiki. Para peneliti juga menekankan bahwa 'anomali' dalam UAP tidak selalu terkait dengan udara, tetapi bisa juga di bawah air.
UAP dilaporkan dalam berbagai bentuk, seperti bola, cakram, segitiga, hingga pesawat besar. Banyak penampakan menunjukkan pergerakan yang tidak lazim, dengan manuver yang menentang hukum aerodinamika, seperti perubahan arah mendadak, kecepatan tinggi, dan kemampuan melayang tanpa sistem propulsi yang jelas.

Seorang veteran angkatan udara AS, David Grusch, menggegerkan media sosial dengan klaim bahwa militer AS telah menemukan puing-puing pesawat tak dikenal yang utuh, beberapa di antaranya berisi pilot non-manusia yang tewas.
Laporan dari Director of National Intelligence pada 2023 menemukan 510 penampakan UAP pada 2022, meningkat dari 366 penampakan pada tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, 171 penampakan dianggap sebagai objek terbang tak biasa dan memerlukan analisis lebih lanjut.

"Hipotesis untuk fenomena semacam itu terbagi dalam dua kelompok: penjelasan konvensional tentang Bumi (misalnya, teknologi buatan manusia), atau penjelasan tentang makhuk luar angkasa (misalnya, peradaban maju dari kosmos lain)," tulis para peneliti, sebagaimana dikutip Newsweek.
Ada juga hipotesis ketiga yang minoritas: penjelasan terestrial yang tidak umum, disebut hipotesis ultraterrestrial. Hipotesis ini mencakup subset dari hipotesis cryptoterrestrial, yang menyatakan bahwa UAP mungkin mencerminkan aktivitas makhluk cerdas yang bersembunyi di Bumi, di bawah tanah, di Bulan, atau bahkan di antara kita dengan menyamar sebagai manusia.

Makalah ini membahas empat teori tentang bagaimana alien bisa hidup berdampingan dengan manusia. Teori pertama, teori manusia cryptoterrestrials, menyebutkan mungkin ada peradaban manusia purba yang lebih maju secara teknologi yang masih bertahan secara rahasia. Teori kedua menyatakan kemungkinan adanya peradaban non-manusia berteknologi maju yang berevolusi di Bumi secara rahasia.
Teori ketiga mengatakan ada alien atau manusia dari masa depan yang hidup secara rahasia di Bumi. Teori keempat mengusulkan kemungkinan adanya makhluk kriptoterrestrial mirip malaikat yang hidup di Bumi, seperti peri, elf, atau nimfa. Namun, teori terakhir ini dianggap tidak bisa dijelaskan secara ilmiah dan sering kali dianggap aneh oleh ilmuwan.

"Kepercayaan pada makhluk luar angkasa masih dianggap logis, namun kepercayaan pada peri bukanlah pilihan bagi banyak ilmuwan," tulis para peneliti.
"Meski gagasan ini mungkin skeptis bagi sebagian besar ilmuwan, kami berpendapat bahwa gagasan ini tidak boleh diabaikan begitu saja, melainkan layak dipertimbangkan dengan pikiran terbuka."
Mayoritas ahli tidak percaya bahwa UFO atau UAP adalah bukti adanya aktivitas luar Bumi.
"Pertemuan ini menangkap imajinasi orang yang berbeda-beda," ujar Joshua Semeter, profesor teknik elektro dan komputer sekaligus direktur Center for Space Physics di Boston University.
"Sebagai seorang teknolog, spekulasi saya adalah bahwa beberapa bentuk teknologi canggih mungkin berperan. Namun saya tetap yakin bahwa itu hanyalah teknologi manusia. Mungkin ada teknologi di masa depan yang dapat menjelaskan objek asing yang terbang dengan karakteristik aneh tersebut."
Bagi Semeter, menghubungkan UAP dengan alien adalah pemikiran yang terlalu jauh. Namun, menurutnya kita harus tetap berpikir terbuka untuk memecahkan misteri ini.

