Sebuah insiden mengejutkan terjadi di Bandar Lampung ketika seorang mahasiswa aktif berinisial N ditangkap atas tuduhan tindakan eksibisionisme di sebuah minimarket. Peristiwa ini menyoroti masalah serius terkait kesehatan mental dan perilaku seksual menyimpang di masyarakat.
Kompol Mukhammad Hendrik Apriliyanto, Kasat Reskrim Polresta Bandar Lampung, mengonfirmasi penangkapan tersebut setelah serangkaian penyelidikan.
Menurutnya, pelaku telah diamankan dan mengakui perbuatannya setelah diperlihatkan bukti video. Video berdurasi 2 menit 4 detik yang beredar memperlihatkan pelaku berpenampilan rapi namun dengan resleting terbuka, memamerkan alat kelaminnya di depan kasir.
Mengejutkannya, ini bukan kali pertama N melakukan aksi serupa. Hendrik menyebut bahwa pelaku sudah empat kali melakukan ekshibisionis di lokasi minimarket yang sama. Polisi kini mendalami kondisi psikologis pelaku untuk menentukan normalitas mental yang bersangkutan.
N terancam dijerat dengan Undang-undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi dan atau pasal 281 KUHPidana tentang Perbuatan Cabul di Muka Umum, dengan ancaman hukuman hingga 10 tahun penjara.
Apakah Termasuk Aksi Ekshibisionis?
Ekshibisionisme adalah sebuah kondisi di mana seseorang mendapatkan kepuasan seksual dengan memperlihatkan alat kelamin atau area pribadi kepada orang lain tanpa persetujuan. Jika merujuk dari informasi di atas, kemungkinan besar N memiliki kecenderungan ekshibisionisme.
Ekshibisionisme tidak hanya terbatas pada tindakan di tempat umum, tetapi juga mencakup perilaku mengirim foto alat kelamin di media sosial kepada orang tak dikenal.
Dampak ekshibisionisme dapat sangat merusak, baik bagi pelaku maupun korban. Gangguan ini sulit ditangani tanpa pengobatan dan cenderung mengalami kekambuhan. Pelaku sering mengalami harga diri rendah, depresi, dan kecemasan, serta kesulitan mendapatkan kepuasan seksual dalam hubungan romantis.
Sayangnya, banyak penderita eksibisionisme baru mencari pengobatan setelah berhadapan dengan hukum. Penelitian menunjukkan bahwa mereka sering kali tidak mencari bantuan sampai akhirnya bermasalah dengan hukum dan diwajibkan mendapatkan pengobatan.
Dukungan keluarga dan lingkungan sangat penting dalam penanganan kasus ekshibisionisme. Anggota keluarga dan orang terdekat dapat membantu dengan menerapkan rutinitas harian, membatasi penggunaan internet, dan mengambil tindakan pencegahan untuk menghindari perilaku sembarangan di tempat umum.
Baca artikel dan berita menarik dari JalanTikus lainnya di Google News

