Detail kehidupan perempuan di era Romawi Kuno adalah salah satu bidang yang menarik minat para sejarawan dan peneliti, terutama dalam hal kebiasaan pernikahan dan melahirkan. Pada masa itu, pernikahan di usia remaja dianggap normal, bahkan usia 12 tahun dipandang sebagai usia yang ideal untuk menikah.
Dalam kalangan masyarakat elit, pernikahan pada usia sebelum 12 tahun bukanlah hal yang aneh.
Perempuan Romawi Kuno biasanya hamil pada usia 15 tahun, dengan melahirkan sebagai tujuan utama pernikahan. Kemampuan untuk membentuk keluarga menjadi faktor penting dalam tatanan politik Romawi Kuno. Kaisar Augustus, yang memerintah dari tahun 27 SM hingga 14 M, sangat prihatin dengan menurunnya angka kelahiran, khususnya di kalangan kelas atas.
Untuk mendorong pernikahan dan kelahiran, ia mengeluarkan undang-undang seperti Hukum Julian pada tahun 18 SM dan Hukum Papia-Poppaean pada tahun 9 M. Undang-undang ini bahkan memberikan penghargaan kepada wanita yang memiliki lebih dari tiga anak.
Meskipun menikah pada usia muda sudah menjadi norma, kehamilan pada usia di bawah 15 tahun bisa berisiko tinggi. Dalam Epistulae, Pliny the Younger (61 hingga sekitar 113 M) menulis tentang istrinya yang tidak menyadari kehamilannya dan gagal mengambil tindakan pencegahan yang mengakibatkan keguguran dan sakit parah.
Ia juga menceritakan tentang dua saudara perempuan muda yang meninggal saat melahirkan, menyoroti risiko yang dihadapi perempuan muda yang melahirkan.
Angka kematian bayi di zaman Romawi Kuno sangat tinggi. Menurut catatan, satu dari tiga bayi meninggal pada tahun pertama, dan banyak yang meninggal dalam beberapa minggu pertama setelah lahir. Fronto (95-166 M), guru kaisar Romawi Marcus Aurelius, mengalami sendiri kehilangan lima anak.
Karena tingkat kematian bayi yang tinggi, angka kesuburan juga harus tinggi agar populasi tetap stabil. Rata-rata seorang perempuan Romawi Kuno melahirkan lima hingga enam anak, dengan harapan sebagian besar anak-anak itu bisa bertahan hidup.
Kasus kematian bayi dan ibu bervariasi sesuai dengan kelas sosial-ekonomi. Keluarga di kelas bawah menghadapi kesulitan yang lebih besar, dengan kematian bayi yang diperparah oleh pola makan buruk, sanitasi yang buruk, dan pengetahuan medis yang terbatas. Hal ini menunjukkan tantangan yang dihadapi oleh perempuan dan keluarga di zaman Romawi Kuno.