Kamu pasti tidak akan percaya jika ada seorang perempuan yang hanya butuh waktu kurang dari 15 jam untuk mencapai puncak Gunung Everest dari base camp. Namun itulah kisah nyata yang dialami oleh Phunjo Jhangmu Lama, seorang pendaki wanita yang memiliki kemampuan luar biasa.
Dalam sebuah wawancara dengan BBC Indonesia, Phunjo Jhangmu Lama bercerita tentang pengalamannya yang menakjubkan ini. Ia mengaku bahagia bisa mencapai puncak tertinggi di dunia itu, meski tanpa berlebihan.
Phunjo Jhangmu Lama adalah seorang ibu tunggal berusia 32 tahun yang telah mengalami banyak kesulitan dalam hidupnya. Ia kehilangan ibunya saat masih sangat kecil dan kemudian dirawat oleh kakeknya. Selama delapan tahun masa kecilnya, ia menghabiskan waktunya sebagai gembala kerbau di pegunungan Nepal.
Meskipun awalnya tidak memiliki impian besar, pada usia 13 tahun Phunjo memutuskan untuk mengikuti jejak saudara perempuannya dan menjadi seorang bikkhuni di ibu kota Nepal, Kathmandu. Namun setelah beberapa waktu tinggal di biara, ia menyadari bahwa kehidupan seperti itu tidak cocok baginya.
Dengan dukungan finansial dari saudara laki-lakinya, Phunjo belajar bahasa Nepal dan Inggris secara formal. Setelah tinggal beberapa tahun di Amerika Serikat, ia kembali ke Nepal dan menjadi penyelamat perempuan pertama yang menggunakan tali helikopter untuk menyelamatkan pendaki gunung yang terluka.
Perjalanan Pendakian Everest
Percobaan pertama Phunjo mendaki Gunung Everest pada tahun 2015 harus dihentikan karena gempa besar yang mengguncang Nepal. Namun, ia tidak menyerah dan terus berusaha. Pada tahun 2016, ia berhasil mendaki Denali, puncak tertinggi di Alaska, serta Cho Oyu di Nepal.
Pada tahun 2018, Phunjo mencetak rekor sebagai pendaki wanita tercepat dengan waktu tempuh 39 jam enam menit untuk mencapai puncak Everest. Namun, rekor ini kemudian dilampaui oleh seorang pendaki dari Hong Kong pada tahun 2021.
Dorongan dari teman-temannya membuat Phunjo memutuskan untuk merebut kembali rekor tersebut. Ia meminta bantuan Tendi Sherpa, seorang pendaki berpengalaman yang telah mendaki Everest sebanyak 17 kali.
Setelah dua pekan persiapan di base camp, Phunjo akhirnya mulai mendaki Everest. Dalam perjalanan ini, ia ditemani oleh dua pemandu yang memiliki pengalaman mencapai puncak Everest berkali-kali.
Mencapai Puncak dalam Waktu Singkat
Phunjo Jhangmu Lama berhasil mencapai puncak Gunung Everest pada tanggal 23 Mei 2024. Pada hari itu juga merupakan hari kelahiran Buddha, yang membuat pencapaiannya terasa lebih berarti.
Meskipun pendakian Everest adalah pengalaman yang sulit dan berisiko, Phunjo merasa senang dan puas dengan perjalanan ini. Ia menuturkan bahwa saat mendaki menuju Camp 4, ia mengalami kemacetan karena banyaknya pendaki yang antri. Namun, setelah melewati tantangan tersebut, seluruh perjalanan berjalan lancar dan menyenangkan baginya.
Phunjo Jhangmu Lama berharap bahwa pencapaiannya ini bisa menjadi inspirasi bagi orang lain untuk menggapai impian mereka. Baginya, semua orang memiliki potensi untuk mencapai hal-hal besar dalam hidupnya.
Menanti Rekor Baru
Meskipun rekor pendakian Everest oleh seorang perempuan saat ini masih dipegang oleh pendaki dari Hong Kong, Phunjo Jhangmu Lama yakin bahwa suatu hari nanti ada seseorang yang akan memecahkan rekor tersebut. Baginya, hal itu akan menjadi suatu kebahagiaan karena artinya semakin banyak orang yang mampu mencapai puncak Everest.
Pendakian gunung seperti Everest membutuhkan persiapan yang matang dan dukungan tim yang solid. Tidak hanya kondisi fisik yang prima, tetapi juga cuaca dan kondisi gunung harus bersahabat untuk mencapai puncak dengan aman.
Phunjo Jhangmu Lama telah membuktikan bahwa segala sesuatu mungkin tercapai ketika kita memiliki tekad dan keberanian. Kisah luar biasanya sebagai pendaki wanita tercepat di Everest akan selalu memberikan inspirasi bagi semua orang untuk menghadapi tantangan hidup dengan semangat dan keteguhan hati.