Penduduk Dunia Jadi Susah Tidur Sejak Pandemi, Indonesia Kena Coronasomnia?

Default

Dalam rangka memperingati Hari Tidur Sedunia 2021 yang jatuh pada kemarin, Jumat (19/03/2021), produsen elektronik Philips merilis sebuah survei tahunan dengan KJT Group.

Survei tersebut dilakukan terhadap 13.000 orang di 13 negara di dunia. Adapun komponen yang dinilai adalah sikap, persepsi, dan perilaku tidur dari para responden.

Hasil menarik pun didapat dari survey berjudul Seeking Solutions: How COVID-19 Changed Sleep Around the World itu, yakni 70% responden mengalami gangguan tidur sejak pandemi dan kebanyakan dari mereka sering terjaga hingga larut malam.

Lebih lanjut, 41% responden mengaku tidak puas dengan kualitas tidur yang mereka dapatkan meski rata-rata dari mereka tidur hingga 7,2 jam setiap malamnya loh, geng.

Para responden mengaku takut dan khawatir akibat berita-berita COVID-19; mereka juga mengalami stres masalah keuangan, tekanan keluarga, bekerja dari rumah, hingga koneksi internet yang tidak stabil yang menyebabkan kualitas tidur terganggu - seperti dilaporkan Kompas.

Pandemi Sebabkan Insomnia D51d9

Meskipun penduduk Indonesia tidak menjadi responden dari penelitian tersebut, bukan berarti gangguan tidur tidak dialami oleh masyarakat Indonesia loh, geng.

Presiden Direktur Philips Indonesia, Pim Preesman mengatakan bahwa pandemi memang telah mengubah keseharian kita, termasuk soal kebiasaan tidur.

Melansir dari Liputan 6, hal senada juga disampaikan oleh dr. Andreas Prasadja, RPSGT dari Snoring & Sleep Disorder Clinic, RS Mitra Kemayoran Jakarta.

Ia menyebut bahwa gangguan tidur akan menyebabkan terjadinya peningkatan sel inflamasi atau peradangan sehingga tubuh jadi lebih mudah sakit dan rentan terhadap virus.

Nah, perubahan pola dan perilaku tidur yang dialami oleh masyarakat Indonesia dan dunia ini disebutnya sebagai Coronasomnia, yaitu gangguan tidur yang terjadi pada masa pandemi.

Insomnia Akibat Corona 206bc

dr. Andreas juga mengungkapkan bahwa saat ini, data terbaru menunjukkan bahwa 70% pasiennya mengalami insomnia, sedangkan 30% lainnya menderita sleep apnea.

Itu berarti terjadi 20% peningkatan keluhan pada penderita insomnia, yang sebelumnya hanya diidap oleh 50% pasien - membagi rata persentase penderita insomnia dan sleep apnea.

Salah satu penyebabnya adalah karena isolasi dalam waktu lama, apalagi bagi orang-orang yang bekerja di rumah - mereka kemungkinan mengalami stress atau kecemasan, geng.

Untuk mengatasinya, dr. Andreas menyarankan agar kita melatih tubuh untuk membedakan siang dan malam, mulai dari membatasi aktivitas hingga jam kerja.

Ia juga menyarankan untuk tidak bekerja di kamar tidur dan mengatur pencahayaan.

Jika kamu merasa memiliki gangguan tidur semenjak pandemi, kamu bisa mencoba anjuran dr. Andreas di atas, geng. Semoga kualitas tidurmu membaik, ya!

Baca juga artikel seputar Games atau artikel menarik lainnya dari Ayu Kusumaning Dewi.

Simak juga beberapa artikel menarik lainnya dari Jalan Tikus berikut ini:

Dari Gempa Dahsyat Hingga Gladiator, Ini 7 Cerita Seru Malam Pertama Artis!

Ini 6 Alasan Kenapa Imperfect The Series Populer Banget, Se-Pecah Itu!

12 Potret Masjid Terunik dan Terindah di Dunia, Bernilai Seni dan Sejarah!

Penelitian Buktikan Ayam adalah Evolusi dari T-Rex | Bisa Kloning Dinosaurus?

Tinder Akan Hadirkan Fitur Rekam Jejak Match Pengguna, Kencan Online Lebih Aman!

ARTIKEL TERKAIT
Gadget Untuk Menghilangkan Insomnia 26078
10 Gadget Canggih Untuk Menghilangkan Insomnia
Main Smartphone Malam Hari
Inilah 5 Dampak Negatif Bagi Tubuh Kamu Jika Main HP Sebelum Tidur
Bahaya Gadget Sebelum Tidur
Rusak Pola Tidur Hingga Otak? Ini Bahaya Gunakan Gadget Sebelum Tidur
Sleep 4ff45
Insomnia? 5 Aplikasi Android Ini Bisa Jadi Pengantar Tidur
Banner Sleep Smartphone 56447
Sering Tidur Dekat Smartphone? Hentikan! Ini 4 Bahaya yang Mengintai Kamu
Tautan berhasil disalinX
x

Keluar dari JalanTikus

Popup External Background JalanTikus

Apakah anda yakin untuk meninggalkan website JalanTikus?

Ya
Batal