J

A

L

A

N

T

I

K

U

S

!

!

  • NONTONYUK!
  • Pasang Iklan
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami
  • Kerjasama
No Name
 

Fosil Cumi-cumi Vampir Ditemukan di Hongaria | Predator Purba Buas?

Rabu, 24 Feb 2021, 17:45 WIB
Fosil Cumi-Cumi Vampir ditemukan di Hongaria setelah sebelumnya dikira fosil dari sotong. Fosil ini mengungkapkan banyak tabir misteri.

Cumi-cumi vampir telah bersembunyi di sudut-sudut gelap lautan selama 30 juta tahun. Sebuah penelitian terbaru menemukan fosil hewan yang telah lama hilang ini.

Cumi-cumi vampir zaman modern (Vampyroteuthis infernalis) dapat berkembang biak sebagai hewan perairan laut dalam yang miskin oksigen, tidak seperti spesies cumi-cumi lain.

Kebanyakan spesies cuma-cumi lain membutuhkan habitat dangkal seperti di sepanjang dataran kontinen.

Para ilmuwan sebelumnya tidak yakin kapan cephalopoda yang sulit ditangkap ini mengembangkan kemampuan untuk hidup dengan sedikit oksigen.

Analisis pada fosil terbaru spesies ini membantu mengisi celah 120 juta tahun dalam evolusi cumi-cumi vampir.

Terungkap bahwa nenek moyang cumi-cumi vampir zaman modern sudah hidup di lautan dalam selama Oligosen, 23 juta hingga 34 juta tahun yang lalu.

"Cumi-cumi ini mungkin berevolusi beradaptasi dengan air rendah oksigen selama Jurassic", kata Martin Kostak, ahli paleontologi di Universitas Charles di Praha, Ceko seperti yang dikutip dari LiveScience.

"Kehidupan dalam tingkat oksigen rendah yang stabil membawa keuntungan evolusioner, pemangsaan rendah dan persaingan yang lebih sedikit," tulis Kostak dalam emailnya.

Kondisi Fosil Cumi-cumi yang Ditemukan Kembali

Fosil Cumi Cumi Di Hongaria 5df84

Kostak dan rekan-rekannya menemukan fosil yang telah lama hilang tersebut di koleksi Museum Sejarah Alam Hongaria pada tahun 2019 saat mencari fosil nenek moyang sotong (kerabat cumi-cumi).

Fosil itu awalnya ditemukan pada tahun 1942 oleh ahli paleontologi Hongaria Miklos Kretzoi, yang mengidentifikasinya sebagai cumi-cumi yang berumur sekitar 30 juta tahun dan menamakannya Necroteuthis hungarica.

Namun, peneliti selanjutnya berpendapat bahwa itu adalah nenek moyang sotong. Pada tahun 1956, selama Revolusi Hongaria, museum tersebut dibakar dan fosilnya diperkirakan musnah.

Penemuan kembali fosil itu merupakan kejutan yang membahagiakan. "Itu adalah momen yang luar biasa, untuk melihat sesuatu yang sebelumnya dianggap benar-benar hilang," kata Kostak.

Kostak dan rekan-rekannya mempelajari fosil tersebut dengan pemindaian mikroskop elektron dan melakukan analisis geokimia.

Mereka pertama kali menemukan bahwa identifikasi awal Kretzoi benar, fosil hewan purba itu berasal dari cumi-cumi, bukan nenek moyang sotong.

Cangkang bagian dalam hewan, atau gladius yang membentuk tulang punggung tubuhnya, memiliki panjang sekitar 6 inci (15 cm), panjang cumi-cumi itu mencapai 13,7 inci (35 cm) berserta tentakelnya.

Fosil ini hanya sedikit lebih besar dari cumi-cumi vampir modern yang mencapai panjang total sekitar 11 inci (28 cm).

Sedimen yang mengelilingi fosil tidak menunjukkan jejak mikrofosil yang sering ditemukan di dasar laut, menunjukkan bahwa cumi-cumi tersebut tidak hidup di perairan dangkal.

Para peneliti juga menganalisis tingkat variasi karbon dalam sedimen dan menemukan bahwa sedimen kemungkinan berasal dari lingkungan yang anoksik atau rendah oksigen. Kondisi tersebut merupakan ciri dasar laut dalam.

Dengan melihat lapisan batuan di atas tempat fosil disimpan, para peneliti juga dapat menunjukkan bahwa cumi-cumi mungkin tidak dapat bertahan di laut yang lebih dangkal pada saat itu.

Endapan laut dangkal menunjukkan tingkat yang sangat tinggi dari plankton tertentu yang mekar di lingkungan rendah garam dan bergizi tinggi, kondisi yang tidak dapat ditoleransi oleh cumi-cumi vampir modern.

Peneliti dari Monterey Bay Research Institute menemukan bahwa saat bersembunyi di laut dalam, cumi-cumi ini tidak berperilaku seperti predator. Sebaliknya, mereka menunggu di habitat gelapnya untuk remah-remah bahan organik beterbangan.

Cumi-cumi Beradaptasi dengan Kedalaman

Fosil Cumi Cumi Vampir 20d0d

Penelitian baru, yang diterbitkan Kamis (18/02/2021) di jurnal Communications Biology, menjelaskan bagaimana nenek moyang cumi-cumi vampir belajar hidup di tempat yang tidak bisa dihuni cumi-cumi lain.

"Melihat lebih dalam catatan fosil, fosil tertua dari kelompok cumi-cumi ini ditemukan pada periode Jurassic, antara 201 juta dan 174 juta tahun lalu, dan mereka biasanya ditemukan di sedimen anoksik," kata Kostak.

"Perbedaan utama adalah bahwa kondisi kekurangan oksigen ini terjadi di shelf, lingkungan air yang dangkal. Ini berarti nenek moyang cumi-cumi vampir pernah menghuni lingkungan perairan dangkal, tetapi mereka sudah beradaptasi dengan kondisi oksigen rendah," katanya.

Ada celah dalam catatan fosil sejak masa Kapur Bawah, dimulai sekitar 145 juta tahun yang lalu.

Cumi-cumi tersebut mungkin telah berpindah menjadi hewan laut dalam, karena adaptasi mereka dengan kondisi anoksik di masa Jurassic.

Gaya hidup perairan dalam ini mungkin menjelaskan mengapa cumi-cumi selamat dari krisis yang membunuh dinosaurus di akhir periode Cretaceous.

Fosil cumi-cumi yang hidup di periode 30 juta tahun lalu ini membantu menghubungkan sejarah terbaru tersebut dengan masa lalu yang dalam.

Baca juga artikel seputar Sains atau artikel menarik lainnya dari Ilham Fariq Maulana.

ARTIKEL TERKAIT
Pageooo 8086d
8 Gorila di Kebun Binatang Ternyata Positif COVID-19, Kok Bisa?
Pandemi Covid19 2021 Bisa Lebih Buruk Dari 2020 41167
WHO: Pandemi COVID-19 di 2021 Bisa Lebih Buruk dari 2020
Sin133 F56ff
Vaksin COVID-19 Bisa Memperbesar Penis, Hoaks atau Bukan?
Lukisan345 3850a
Lukisan Goa Tertua di Dunia Ditemukan di Indonesia, Begini Penampakannya!
Langganan Artikel
Temukan Tips dan Berita menarik setiap harinya. GRATIS!

Tags Terkait:

Keluar dari JalanTikus

Popup External Background JalanTikus

Apakah anda yakin untuk meninggalkan website JalanTikus?

Ya
Batal