Jutaan Masyarakat Indonesia Jatuh Miskin, Ternyata Penyebabnya Receh!

Ditulis oleh Azhar Ilyas - Tuesday, 03 September 2024, 13:57
Tak hanya pandemi Covid-19 selama dua tahun, ternyata alasan receh ini bikin jutaan orang Indonesia jatuh miskin!

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan adanya peningkatan jumlah masyarakat yang rentan jatuh ke dalam kemiskinan. Data ini mengungkapkan bahwa 54,97 juta orang atau 20,56% dari total penduduk pada 2019, menjadi 67,69 juta orang atau 24,23% dari populasi pada 2024.

Selain itu, jumlah kelompok kelas menengah rentan atau aspiring middle class juga meningkat, dari 128,85 juta orang atau 48,20% dari populasi pada 2019, menjadi 137,50 juta orang atau 49,22% pada 2024.

Kenaikan jumlah pada kedua kelompok ini terutama disebabkan oleh turunnya jumlah penduduk kelas menengah. Pada 2019, terdapat 57,33 juta orang yang masuk dalam kategori kelas menengah, setara dengan 21,45% dari total penduduk. Namun, angka ini menyusut menjadi 47,85 juta orang atau 17,13% pada 2024.

Penyebab Masyarakat Menengah Jatuh Miskin

Ekonom senior sekaligus mantan Menteri Keuangan, Bambang Brodjonegoro, mengungkapkan bahwa penurunan kelas ekonomi menengah di Indonesia tidak hanya disebabkan oleh pandemi Covid-19 dan tingginya jumlah pemutusan hubungan kerja (PHK).

Bambang menjelaskan bahwa konsumsi air kemasan, seperti galon, turut menjadi faktor signifikan yang menggerus pendapatan kelas menengah.

Ia juga menekankan bahwa kebiasaan ini tidak umum di banyak negara lain. Di negara-negara maju, masyarakat kelas menengah cenderung memanfaatkan air minum gratis yang disediakan pemerintah di ruang publik, sehingga mereka tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli air. Hal ini membantu menjaga daya beli masyarakat kelas menengah di negara-negara tersebut.

Namun, Bambang menegaskan bahwa kebutuhan air minum hanya satu dari sekian banyak faktor yang memicu penurunan ekonomi kelas menengah. Ia memperkirakan penyebab terbesar penurunan ini tetaplah pandemi Covid-19.

Selama dua tahun pandemi, banyak pekerja kelas menengah kehilangan pekerjaan dan usaha mereka bangkrut. Setelah pandemi mereda, masalah lain muncul, seperti kenaikan suku bunga, yang memperburuk kondisi ekonomi.

ADVERTISEMENT

Perubahan Pola Hidup Kelas Menengah

Selain jumlahnya yang terus menurun, Badan Pusat Statistik (BPS) juga mengungkapkan adanya perubahan signifikan dalam pola pengeluaran kelas menengah. Pengeluaran untuk makanan, minuman, dan perumahan mengalami penurunan, sementara alokasi untuk hiburan justru meningkat.

Pada 2014, kelas menengah menghabiskan 45,53% dari total pengeluaran mereka untuk makanan dan minuman, serta lebih dari 32% untuk kebutuhan perumahan.

Namun, pada 2024, persentase pengeluaran untuk makanan dan minuman turun menjadi 41,67%, dan pengeluaran untuk perumahan menyusut menjadi 28,52%.

Sebaliknya, ada peningkatan dalam pengeluaran untuk hiburan dan kebutuhan pesta, serta barang dan jasa lainnya. Pengeluaran untuk hiburan naik dari 0,22% pada 2014 menjadi 0,38% pada 2024.

Sementara itu, pengeluaran untuk pesta melonjak signifikan, dari 0,75% pada 2014 menjadi 3,18% pada 2024.

Baca artikel dan berita menarik lainnya dari JalanTikus di Google News

Kembali Keatas