J

A

L

A

N

T

I

K

U

S

!

!

  • NONTONYUK!
  • Pasang Iklan
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami
  • Kerjasama
No Name
 

Virus Nipah, Ancaman Pandemi Baru yang Mematikan | Lebih Berbahaya dari Corona

Minggu, 31 Jan 2021, 20:00 WIB
Peneliti di Thailand sedang menginvestigasi virus Nipah yang berpotensi menjadi pandemi mematikan berikutnya. Simak selengkapnya di sini.

Di belakang kasus COVID-19, ada ancaman pandemi baru yang mematikan, yaitu virus Nipah. Tingkat kematian untuk virus tersebut mencapai 75% dan belum ada vaksinnya, sehingga para ilmuwan bekerja keras untuk memastikan virus ini tidak menjadi alasan pandemi berikutnya.

Salah satu peneliti yang ditunjuk pemerintah Thailand, Supaporn Wacharapluesadee, menganalisis sampel dari penumpang pesawat yang baru tiba dari Wuhan pada Januari 2020. Bersama dengan tim, ia berhasil menemukan kasus pertama COVID-19 yang di luar Cina.

Saat ini, Wacharapluesadee dan tim sedang dalam proses memantau potensi lainnya yang bisa menjadi ancaman pandemi berikut. Sebagai pemburu virus kelas wahid, ia merupakan pemimpin Thai Red Cross Emerging Infectious Disease-Health Science Centre, sebuah lembaga yang secara khusus meneliti berbagai penyakit dan infeksi baru di Bangkok.

Ia menghabiskan 10 tahun terakhir menjadi bagian Predict yang berusaha untuk mendeteksi dan membasmi penyakit yang bisa menulari manusia dari hewan. Ketika COVID-19 terdeteksi, ia dan timnya menemukan virus baru yang ditemukan pada kelelawar.

Wacharapluesadee dan timnya menjalankan sepanjang karier mereka berhasil menemukan banyak virus baru lewat sampel ribuan kelelawar. Ada banyak penyakit mematikan lain yang dapat menginfeksi manusia, walau sebagian besarnya adalah virus corona.

Virus Nipah Ancaman Pandemi Baru Yang Mematikan Fb9dd
Sumber foto: Getty Images

Salah satu dari virus mematikan tersebut adalah virus Nipah yang dibawa oleh kelelawar buah, inang alaminya. Warcharapluesadee mengatakan bahwa virus tersebut sangat mematikan karena belum ada obatnya dan tingkat kematiannya juga tinggi.

Menurutnya, tergantung lokasi di mana wabah terjadi, tingkat kematian yang disebabkan virus Nipah tersebut berada di sekitar 40 hingga 75 persen.

Seberapa Serius Ancaman Virus Nipah?

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memantau memantau patogen yang berpotensi besar mengancam kesehatan manusia yang belum ada vaksinnya karena bisa menjadi pandemi.

Salah satunya adalah virus Nipah yang masuk dalam 10 besar. Berikut adalah beberapa alasan mengapa virus Nipah ini begitu mengancam.

Yang pertama, periode inkubasinya dilaporkan sangat lama, yaitu hingga 45 hari dalam satu kasus. Oleh karena itu, banyak kesempatan bagi inang yang terinfeksi untuk tidak menyadari bahwa mereka sakit, sehingga secara tidak sadar menyebarkannya.

Lalu, virus ini juga menginfeksi berbagai jenis hewan, sehingga kemungkinan penyebarannya menjadi lebih tinggi. Virus Nipah juga dapat menular lewat mengonsumsi makanan yang terkontaminasi dan melalui kontak langsung dan tidak langsung.

Gejala-gejala yang ditimbulkan virus ini antara lain adalah batuk, sakit tenggorokan, meriang, lesu, dan ensefalitis, radang otak yang disebabkan oleh infeksi dan dapat menyebabkan kematian. Bisa diambil kesimpulan bahwa virus ini sangat mematikan apabila tersebar.

Bagaimana Manusia Bisa Terpapar Virus Nipah?

Kolega Wacharaphluesadee, Vaensa Duong yang merupakan kepala unit virologi di laboratorium penelitian Institut Pasteur di Phnom Penh menjelaskan bahwa interaksi manusia dengan kelelawar memiliki resiko yang tinggi. Pasalnya, berpaparan dengan kelelawar dapat menyebabkan virus bermutasi dan mengakibatkan pandemi.

Salah satu contohnya adalah pasar Battambang yang berlokasi di Sungai Sangkaei, barat laut Kamboja. Di tempat tersebut, kios-kios di pasar dipenuhi dengan kotoran kelelawar karena ada ribuan kelelawar yang hinggap di pepohonan sekitar pasar.

Duong juga menambahkan bahwa manusia dan anjing liar yang berkeliaran di bawah sarang-sarang terpapar urine kelelawar setiap hari. Tempat lainnya yang memiliki interaksi tinggi antar manusia dan kelelawar adalah tempat ibadah, sekolah, hingga lokasi turis seperti Angkor Wat.

Virus Nipah Ancaman Pandemi Baru Yang Mematikan Angkor Wat F6af6
Sumber foto: Live Science

Ia berkata bahwa ada sarang besar kelelawar di Angkor Wat. Tempat yang biasa dikunjungi 2,6 juta orang setiap tahun tersebut beresiko meningkatkan kesempatan virus Nipah pada 2,6 juta orang, hanya dalam satu lokasi.

Selama tiga tahun, dari tahun 2013, Duong dan rekan-rekannya membuat program berbasis GPS yang khusus untuk meninjau aktivitas kelelawar Kamboja ke kelelawar lain di wilayah hotspot lainnya.

Bangladesh dan India termasuk dalam wilayah berpotensi tinggi tersebut. Pasalnya, kedua negara tersebut sudah pernah mengalami wabah akibat virus Nipah. Hal ini kemungkinan besar terkait dengan kebiasaan orang-orang meminum jus kurma.

Infeksi bisa terjadi karena kelelawar yang terinfeksi terbang ke perkebunan kurma dan menghisap sari buahnya saat keluar dari pohon. Mereka juga kerap kencing di pot pengumpulan, sehingga warga setempat yang membeli jus di pedagang terinfeksi oleh virus Nipah keesokan harinya.

Terkonfirmasi 196 orang terinfeksi Nipah dalam 11 wabah di Bangladesh pada tahun 2001 hingga 2011, bahkan 150 orang di antaranya meninggal dunia. Selain di Bangladesh, jus kurma juga populer di Kamboja.

Duong dan rekan-rekannya menemukan bahwa kelelawar buah di Kamboja mampu terbang jauh, hingga 100 kilometer setiap malam hanya untuk menemukan buah. Selain itu, ia mengidentifikasi guano (kotoran kelelawar) sebagai bahan populer pupuk di Kamboja dan Thailand.

Banyak lokasi warga setempat mendorong kelelawar buah untuk berak di dekat rumah agar mereka bisa mendapatkan guano dan menjualnya kembali. Hanya saja, mereka sama sekali tidak tahu akan bahaya aktivitas tersebut.

Duong menjelaskan enam puluh persen orang yang diwawancarai tidak tahu bahwa kelelawar dapat menularkan penyakit karena pengetahuan mereka masih kurang. Oleh karena itu, ia percaya bahwa warga setempat memerlukan edukasi mengenai ancaman kelelawar.

Namun, hal tersebut tidaklah mudah, mengingat populasi manusia yang bertambah, sehingga menghancurkan habitat alam. Hal ini memberi kesempatan tinggi bagi penyakit untuk menyebar.

Rebekah J White dan Orly Razgour menulis bahwa penyebaran patogen (zoonotik) dan risiko transmisi bertambah cepat dengan perubahan penggunaan lahan seperti penggundulan hutan, urbanisasi, dan intensifikasi pertanian dalam telaah tentang penyakit zoonotik emerging yang diterbitkan Universitas Exeter pada 2020.

Baca artikel mengenai Berita atau artikel menarik lainnya dari Michelle Cornelia.

ARTIKEL TERKAIT
Ritual Sadis Dan Kanibalisme Terungkap Di Meksiko Banner 1b04b
Ritual Sadis dan Kanibalisme Terungkap di Meksiko, Ngeri & Bikin Merinding!
Penyebab Kematian Terburuk Menurut Sains Banner 1c498
7 Penyebab Kematian Terburuk Menurut Sains, Bikin Merinding!
Penemu Yang Membenci Temuannya Sendiri Banner 1574e
5 Penemu yang Membenci Temuannya Sendiri, Apa Penyebabnya?
Untitled Design 2021 01 19t224159 359 D2937
5 Tokoh Sejarah yang Paling Banyak Membunuh | Tak Punya Nurani!
Kim Jong Un Banner New 93afb
Serem! Nonton Drakor di Korea Utara Bakal Dipenjara 15 Tahun
Pisang Terbesar Di Dunia Ada Di Indonesia Banner Cfc4d
Pisang Terbesar di Dunia Ada di Indonesia, Beratnya Sampai 60 Kilo! Ini Fotonya
Cara Main Lol Wild Rift Banner 1993c
Cara Main LoL Wild Rift, League of Legends Akhirnya Ada di Mobile!
Langganan Artikel
Temukan Tips dan Berita menarik setiap harinya. GRATIS!

Tags Terkait:

Keluar dari JalanTikus

Popup External Background JalanTikus

Apakah anda yakin untuk meninggalkan website JalanTikus?

Ya
Batal