J

A

L

A

N

T

I

K

U

S

!

!

  • NONTONYUK!
  • Pasang Iklan
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami
  • Kerjasama
No Name
 

Pembangunan Jalan Anyer-Panarukan, Kerja Paksa Atau Bukan? | Pribumi Korup?

Sabtu, 13 Feb 2021, 14:00 WIB
Fakta yang belum banyak diketahui masyarakat Indonesia mengenai pembangunan Jalan Anyer-Panarukan, apakah benar kerja paksa atau bukan? Simak penjelasannya!

Baru-baru ini nama Daendels atau Herman Willem Daendels, Gubernur-Jenderal Hindia Belanda menjadi trending topic di media sosial Twitter. Daendels menjadi trending lantaran beredar fakta bahwa pembangunan Jalan Anyer-Panarukan yang ternyata menyediakan upah.

Naiknya Daendels sebagai trending topic di Twitter ini bermula dari cuitan @mazzini_gsp yang menjawab salah satu cuitan netizen yang menanyakan kebenaran dari sebuah gambar.

Pembuatan Jalan Dari Anyer Sampai Dengan Panarukan Bertujuan Untuk Brainly 5df2b
Sumber foto: Twitter.com/@mazzini_gsp

Gambar tersebut menjelaskan bahwa sebenarnya, pembangunan Jalan Anyer-Panarukan menyediakan upah bagi pekerja, mandor, dan bahkan sampai konsumsi pekerja! Sayangnya, data penyerahan dana dari bupati ke pekerja belum pernah ditemukan.

Menjawab cuitan itu Mazzini mengiyakan bahwa Daendels menyediakan uang senilai 30 ribu ringgit sebagai gaji dan konsumsi. Namun, ketika uang ini diberikan kepada bupati, uang tersebut tidak pernah sampai ke pekerja.

Dari sini munculah berbagai asumsi netizen yang menganggap kalau penyebab munculnya istilah 'kerja paksa' lantaran bupati pribumi yang justru tidak menyerahkan upah kepada pekerja. Seperti apa fakta yang sebenarnya?

Tujuan Pembangunan Jalan Anyer-Panarukan

Jalan Anyer Panarukan Fab27

Berdasarkan penjelasan Pramoedya Ananta Toer, penulis "Bumi Manusia", sebelum adanya jalan Anyer-Panarukan, sistem yang berlaku di Priangan (Jawa Barat) dikenal sebagai koffie-stelsel atau tanam wajib kopi dan diwajibkan untuk menjualnya kepada Belanda.

Sehingga untuk melancarkan sistem itu, dimulailah pembangunan jalan ini yang bertujuan untuk melancarkan kepentingan ekonomi dan militer.

Pramoedya pun menjelaskan fakta pahit dari momen paling bersejarah itu, setidaknya 12.000 orang tewas selama pengerjaan Jalan Raya Pos tersebut. Hal ini dikarenakan belum adanya teknologi dinamit untuk membelah gunung, sehingga tenaga manusia terpaksa digunakan dan mengakibatkan banyak korban.

Pembangunan Jalan Anyer-Panarukan Bersistem Kerja Rodi

Pembangunan Jalan Raya Anyer Sampai Panarukan Bertujuan 1f8b9

Pembangunan Jalan Anyer-Panarukan yang kurang lebih sepanjang 1.000 km itu, diperuntukkan sebagai Jalan Raya Pos di masa Hindia Belanda yang dikerjakan dalam waktu satu tahun.

Pembangunan ini dilakukan atas perintah Gubernur-Jenderal Hindia Belanda waktu itu, Herman Willem Daendels (1808-1811) yang bersistemkan kerja rodi (kerja wajib) atau heerendiensten.

Sistem tersebut yang kemudian, dalam pelajaran sejarah yang diajarkan di sekolah, dikenal sebagai kerja paksa (tanpa upah).

Kehabisan Dana dan Keterlibatan Pejabat Pribumi

Pembuatan Jalan Dari Anyer Sampai Dengan Panarukan Bertujuan Untuk 83dae

Sejarawan Universitas Indonesia, Djoko Marihandono menjelaskan pada tahap pertama pembangunan, dari Bogor ke Cirebon, pemerintah kolonial menyiapkan dana untuk upah pekerja dan mandor, peralatan, dan konsumsi atau ransum.

"Untuk membangun jalan dari Cisarua, Bogor, sampai Cirebon, Daendels menyediakan dana sebanyak 30.000 ringgit ditambah dengan uang kertas yang begitu besar," terang Djoko.

Dalam penelusuran Djoko, pembayaran dari residen ke bupati pribumi memiliki catatan dokumennya. Namun, pembayaran dari bupati ke pekerja ini yang justru belum ditemukan buktinya. Sehingga menjadi pertanyaan apakah bupati membayarkan upah ini ke pekerja?

Persoalan itu didukung dengan masalah pembangunan yang mulai memasuki wilayah Jawa Tengah menuju Jawa Timur tepatnya di Karangsembung. Dana yang digunakan sudah mulai habis untuk membayar pekerja dan perawatan jalan.

Mengakali hal tersebut, Daendels melakukan pertemuan dengan seluruh penguasa pribumi dan bupati di Jawa Tengah dan Jawa Timur di rumah Residen Semarang.

Daendels meminta kepada mereka agar menyediakan tenaga kerja dengan menggunakan sistem kerja yang berlaku pada masyarakat yaitu heerendiensten, kerja wajib untuk raja.

Sebagai informasi, prinsip kerja wajib itu dibuat lantaran penduduk menempati tanah milik raja, maka wajib hukumnya untuk memberikan upeti kepada raja. Prinsip ini dipakai oleh Daendels untuk memerintahkan para bupati agar mengerahkan penduduknya untuk bekerja.

Dari situ, atas kesediaan para bupati, rakyat dikenakan wajib kerja oleh para bupati tersebut untuk melanjutkan proyek penggarapan Jalan Raya Pos ini.

Sehingga bisa dikatakan, bahwa lahirnya istilah 'kerja paksa' dan ribuan korban tewas dalam pembangunan Jalan Raya Anyer-Panarukan adalah hasil dari misi kolonialisme Pemerintahan Hindia Belanda ditambah feodalisme korup para pejabat pribumi di waktu itu.

Fakta yang cukup menyedihkan bukan? Seharusnya fakta ini diikutkan dalam pelajaran sejarah agar kita bisa belajar dari kesalahan sendiri.

Baca juga artikel seputar Sejarah atau artikel menarik lainnya dari Ilham Fariq Maulana.

ARTIKEL TERKAIT
Manusia Purba Yang Ditemukan Di Indonesia 45bee
5 Manusia Purba yang Ditemukan di Indonesia, Mengulas Sejarah!
Pageooo 8086d
8 Gorila di Kebun Binatang Ternyata Positif COVID-19, Kok Bisa?
Pandemi Covid19 2021 Bisa Lebih Buruk Dari 2020 41167
WHO: Pandemi COVID-19 di 2021 Bisa Lebih Buruk dari 2020
Sin133 F56ff
Vaksin COVID-19 Bisa Memperbesar Penis, Hoaks atau Bukan?
Lukisan345 3850a
Lukisan Goa Tertua di Dunia Ditemukan di Indonesia, Begini Penampakannya!
Langganan Artikel
Temukan Tips dan Berita menarik setiap harinya. GRATIS!

Tags Terkait:

Keluar dari JalanTikus

Popup External Background JalanTikus

Apakah anda yakin untuk meninggalkan website JalanTikus?

Ya
Batal