Kisah Petani Keras Kepala yang Bertani dan Tinggal di Tengah Bandara | Berjuang Lebih dari 20 Tahun

Default

Punya rumah yang terletak dekat dengan bandara saja rasanya mungkin kurang nyaman ya, geng. Suara pesawat terbang landas saja pasti cukup mengganggu kegiatan sehari-hari.

Namun nampaknya hal tersebut tak jadi soal untuk petani yang satu ini. Sosok petani asal Jepang bernama Takao Shito ini justru anteng-anteng saja tinggal di sebuah bandara selama lebih dari 20 tahun.

Tempat tinggalnya ini bukan hanya terletak dekat bandara loh. Namun benar-benar ada di dalam bandara itu sendiri, geng. Ia juga tak hanya tinggal di sana, tapi juga memiliki lahan pertanian.

Lahan Pertanian Takao F686c

Petani turun temurun

Mengutip Kompas.com, keluarga Takao Shito memang seorang petani sejak dulu. Mereka sudah bertani di lahan yang sama selama lebih dari 100 tahun.

Kakek Takao Shito adalah seorang petani, ayahnya juga. Kini, Shito meneruskan tradisi keluarganya sebagai petani.

Namun sedikit berbeda dari leluhurnya. Dahulu lahan pertanian keluarganya jadi bagian dari sebuah desa di mana ada 30 keluarga lain yang memiliki lahan pertanian juga.

Kini, lahan pertanian Takao justru ada di tengah-tengah Bandara Narita, yang merupakan bandara terbesar kedua di Jepang. Tak ada peninggalan tersisa dari keluarga lainnya di desa itu selain lahan pertanian dan rumah Takao.

Tinggal di bandara tentu saja kesehariannya dipenuhi dengan suara pesawat selama 24 jam. Tantangannya tak sebatas suara berisik saja.

Satu-satunya jalan keluar masuk pertanian yang ia miliki juga hanya bisa menggunakan terowongan bawah tanah.

Hal ini mungkin cukup bagi seseorang untuk pindah sejauh mungkin. Namun tidak bagi Shito. Ia tetap berjuang mempertahankan pertanian miliknya ini selama lebih dari 2 dekade.

Ia bahkan dengan tegas menolak penawaran sebesar 1,7 juta dolar AS atau sekitar Rp24,5 miliar untuk lahan miliknya ini.

"Ini adalah lahan pertanian yang sudah dimiliki oleh 3 generasi selama hampir 1 abad. Oleh kakek saya, ayah saya, dan saya. Saya ingin terus tinggal dan bertani di sini," kata Shito pada AFP seperti dikutip dari Oddity Central, Rabu (25/8/2021).

Area Rumah Dan Lahan Pertanian Milik Takao Shito Di Bandara Narita 8b371

Berjuang sejak 1970-an

Ayah Takao, Toichi, merupakan salah satu petani yang gigih menolak rencana pemerintah Jepang memperluas Bandara Narita sejak 1970-an.

Sebagian besar petani di desa tersebut saat itu sudah menyerah dan akhirnya menjual lahan mereka demi mendapatkan insentif uang. Namun tidak dengan Toichi. Ia sama sekali menolak menjual pertaniannya demi uang.

Melihat perjuangan ayahnya sejak kecil membuat Takao juga mencintai lahan pertanian keluarganya ini.

Ia pun berhenti dari pekerjaannya di bisnis restoran saat sang ayah meninggal di usia 84 tahun. Ia memutuskan meneruskan perjuangan sang ayah untuk mengurus lahan pertanian keluarga.

Tidak menyerah

Hingga kini Takao masih terus melanjutkan perjuangan sang ayah. Ia beberapa kali terlibat dalam pertarungan di ranah hukum untuk menghentikan pemerintah mengusirnya dari lahan keluarganya itu.

Takao mengakui bahwa hal itu sangat melelahkan. Namun ia sama sekali tak berniat untuk menyerah.

Perjuangannya ini bahkan sudah jadi simbol hak asasi manusia. Ratusan relawan dan aktivis sudah menyatakan dukungannya untuk Takao dari tahun ke tahun.

Relawan Yang Membantu Perjuangan Takao 9f69d

"Saya ditawari uang agar mau meninggalkan pertanian saya. Mereka menawarkan 1,7 juta dollar AS. Itu sama dengan penghasilan selama 150 tahun bertani. Saya tidak tertarik dengan uang, saya hanya ingin bertani. Saya tidak akan pergi," tegas Takao.

Bandara Narita merupakan pintu masuk utama untuk pendatang ke Tokyo, Jepang. Operasionalnya sangat besar. Mereka bisa melayani 40 juta penumpang dan 250.000 penerbangan dalam 1 tahun.

Runway kedua bandara ini seharusnya didesain berada di atas lahan pertanian milik Shito. Namun karena masalah hukum, runway tersebut terpaksa harus mengitarinya.

Selama bertahun-tahun Bandara Narita telah berusaha membeli lahan dari petani lain yang tidak sekeras kepala Takao.

Berdasarkan artikel di Answer Coalition, pengadilan lokal Chiba mengumumkan sebuah keputusan yang bermasalah. Keputusan yang dikeluarkan pada 20 Desember 2018 tersebut memungkinkan eksekusi wajib atas tanah Takao.

Namun keesokan harinya, ia memenangkan keputusan pengadilan lain yang memerintahkan penghentian sementara proses eksekusi wajib tersebut sampai persidangan di Pengadilan Tinggi Tokyo dimulai tahun berikutnya.

Hingga kini, Takao masih aktif bertani di tengah-tengah Bandara Narita. Ia rutin mengirim hasil bertani kepada sekitar 400 pelanggan.

Pandemi Covid-19 yang terjadi sejauh ini tidak memberikan dampak negatif pada Takao.

Ia justru merasa lebih nyaman karena lalu lintas bandara yang tidak sesibuk biasanya. Polusi udara dan juga polusi suara dari pesawat benar-benar berkurang.

BACA JUGA

13 Foto yang Saking Sempurnanya Sampai Dikira Hasil Editan | Kuncinya Adalah Timing!

Download Alight Motion Pro MOD APK v3.9.0 Terbaru 2021 | Free & No Watermark!

7 Artis Indonesia yang Alih Profesi Sebagai Seorang Dosen | Dedikasi Pada Dunia Pendidikan!

100+ Bio IG Keren, Lucu, & Aesthetic 2021, Followers Auto Nambah!

7 Artis Ini Tak Mau Ekspos Wajah Anak di Hadapan Publik | Alasannya karena Privasi

ARTIKEL TERKAIT
Petani India Bajak Sawah Pakai Mobil Pajero Biar Bisa Ngadem 5f15c
Gokil, Petani Ini Bajak Sawah Pakai Mobil Pajero, Biar Bisa Ngadem!
Reza Abdul Jabbar 02a7b
Kesuksesan Petani Susu Indonesia di Selandia Baru | Sangat Disegani!
Sukses Jadi Petani Ganja B03ac
Kisah 2 Orang Indonesia yang Sukses Jadi Petani Ganja di Luar Negeri
Suharto Guru Sd Sukses Jadi Petani Bisa Beli Harley Davidson Acd5c
Kisah Guru SD yang Untung Ratusan Juta Jadi Petani Cabai | Bisa Beli Motor Harley!
Cadangan Berlian Dunia E98b4
Mendadak Tajir, Petani Ini Temukan Berlian Seharga Rp976 Juta di Ladang
Untitled Design 2021 06 24t122248 033 D7913
Petani India Ini Tak Sengaja Tanam Mangga Termahal di Dunia, Harganya Capai Rp65 Juta!
Tautan berhasil disalinX
x

Keluar dari JalanTikus

Popup External Background JalanTikus

Apakah anda yakin untuk meninggalkan website JalanTikus?

Ya
Batal