Jakarta Pernah Dijuluki Kota Tahi Gegara Pertempuran VOC vs Mataram Pakai Amunisi Kotoran Manusia

Default

Jakarta memiliki sejarah karena dahulu pernah diduduki oleh Belanda yang melancarkan kongsi dagang Veerenigde Oostindische Compagnie (VOC). Bahkan, ada julukan Kota Tahi yang pernah melekat pada wilayah yang kini menjadi Ibu Kota negara itu.

Kok, bisa dijuluki Kota Tahi? Dengan mengutip catatan sejarah atau dongeng-dongeng tradisional Jawa seperti "Babad Tanah Jawi", kita akan mengetahui asal usul julukan tersebut, geng.

Saat Belanda berjaya di Batavia dengan kongsi dagang VOC-nya, Sultan Agung yang menjadi Raja Mataram punya ambisi untuk meruntuhkan kongsi dagang tersebut.

Sebagai raja, ia ingin menunjukkan siapa sebenarnya yang menguasai pulau Jawa. Mataram disebutkan menyerang Batavia sebanyak dua kali, yakni pada tahun 1628 dan 1629.

Wikipedia Koninkllijke Bibliotheek 30f42
Sumber foto: Wikipedia, Koninkllijke Bibliotheek

Sayangnya, kedua serangan itu berakhir dengan kekalahan. Apa penyebab kekalahan tersebut? Di sinilah terkuak rahasia yang dimiliki Belanda dalam posisi bertahan, mereka memakai amunisi berupa kotoran manusia.

Belanda terpaksa memakai peluru "bau tak sedap" itu karena terdesak dan benteng mereka hampir berhasil direbut. Dalam keadaan genting, tiba-tiba pihak kompeni mengisi meriam-meriam mereka dengan kotoran manusia serta menembakkannya ke arah pasukan Mataram.

Tidak tahan pada bau kotoran, tentara Mataram dipukul mundur hingga lari sambil berteriak-teriak: "Mambet tahi! Mambet tahi!" (Bau tahi!).

Dalam kitab "Serat Baron Sakender" juga disebutkan terkait kota Batavia yang dibagi menjadi dua, yaitu Kota Tahi dan Kota Inten.

Kedua sumber di atas semakin mengukuhkan bahwa Batavia dahulu pernah dijuluki Kota Tahi ya, geng.

Kembali ke kisah pertempuran Belanda dengan pasukan Mataram, apakah ini hanya kisah fiktif saja yang dibuat orang-orang Jawa untuk menutupi kegagalan mereka menyerbu Batavia?

Rupanya, ada saksi mata yang melihat peristiwa itu dan menuliskan laporannya. Dia adalah Seyger van Rechteren, seorang "Krankbezoeker", pegawai VOC yang tugasnya menengok dan menghibur orang-orang sakit. Konon ia tiba di Batavia pada 23 September 1629.

Ketika serangan datang, Van Rechteren berada di benteng "Maagdelijn" yang lokasinya ada di sudut Tenggara kota. Ia menyaksikan langsung benteng itu dibombardir dengan meriam dan api.

Belanda dalam keadaan terdesak, bahkan benteng nyaris diambil alih. Pasukan Mataram mulai menyeberangi parit dan menaiki tembok benteng dengan menggunakan tangga dan tali-rotan.

Saat itu, jumlah serdadu kompeni tinggal 15 orang tanpa memiliki peluru, kecuali mesiunya. Dalam keadaan yang kritis ini seorang serdadu mengambil kotoran manusia dengan panci dan menjatuhkannya ke bawah, ke arah pasukan-pasukan Mataram. Perbuatan serdadu itu lalu diikuti oleh serdadu lainnya.

Lagi-lagi karena tidak tahan pada baunya, pasukan Mataram kemudian pergi dan benteng itu tetap dikuasai Belanda.

Tidak hanya Van Rechteren yang menyaksikan secara langsung peristiwa meriam diisi kotoran manusia, seorang pedagang dari Jerman bernama David Tappen pada 1680 tiba di Batavia untuk keperluan dagang.

Wikimedia Commons Johannes Van Ryne 12392
Sumber foto: Wikimedia Commons/Johannes van Ryne

Berdasarkan laporannya yang diterbitkan tahun 1704, ia juga menyebut-nyebut peristiwa meriam-meriam Belanda yang diisi kotoran manusia karena Belanda telah kehabisan peluru.

Dalam sebuah buku yang terkenal "History of Java" (Jilid II, 1817, him. 154), Raffles menceritakan bagaimana keadaan Belanda dalam benteng Maagdelijn itu kehabisan amunisi, sehingga mereka memakai batu dan benda-benda keras sebagai peluru meriam.

Ia mengatakan, "even this resource failed; and as a last expedient, bags of the filthiest ordure were fired upon the Javans whence the fort has ever since borne the name of Kota Tahi...." ("bahkan alat inipun gagal; dan sebagai usaha terakhir, berkantung-kantung kotoran ditembakkan ke arah orang-orang Jawa sehingga sejak saat itu benteng tadi bernama Kota Tahi").

Dari keterangan Raffles itu, kita mengetahui bahwa salah satu bagian kota Batavia pernah mengalami serbuan hebat dari pasukan Mataram, yang menyebabkan kompeni terpaksa memakai kotoran manusia sebagai peluru. Sejak saat itu daerah tersebut lalu dikenal dengan nama Kota Tahi.

Baca juga artikel seputar News, atau artikel menarik lainnya dari Ahmad Luthfi.

BACA JUGA

4 Fakta Banjir Besar dalam Kisah Nabi Nuh Menurut Sains, Selaras dengan Kisah dalam Alquran!

Viral Pernikahan Bos Warteg dengan Karyawannya yang Lebih Muda 20 Tahun, Jodoh Gak ke Mana!

Tersesat di Pegunungan Alpen, Pendaki Ini Ceritakan Kucing Pintar yang Selamatkan Dirinya

7 Hewan Berbahaya dan Menjijikkan yang Ditemukan di Pesawat, Sampai Harus Tunda Penerbangan!

Bagian dari Sejarah Nusantara, Ini 3 Wali Songo yang Gunakan Wayang Sebagai Sarana Dakwah

Selain India, 7 Negara Ini Juga Larang Warganya Menggunakan Hijab: Identifikasi Jadi Alasan?

ARTIKEL TERKAIT
10 Bug Komputer Paling Mengerikan Sepanjang Sejarah
10 Bug Komputer Paling Mengerikan Sepanjang Sejarah
Bom Copy Horz D6194
10 Foto Sejarah Menyeramkan yang Membuatmu Bersyukur Hidup di Masa Sekarang
Foto Sejarah Tanpa Photoshop Banner
10 Foto Sejarah Tanpa Sentuhan Photoshop yang Bikin Mulut Berdecak Kagum
Foto Tanpa Photoshop Paling Wow Banner
10 Foto Tanpa Photoshop Paling WOW Sepanjang Sejarah Manusia
Fakta Tersembunyi Sejarah Perkembangan Internet Aaa19
10 Fakta Gila Sejarah Internet | No 3 Gak Nyangka Banget!
Untitled Design 2021 03 17t192451 329 Ac06a
12 Potret Masjid Terunik dan Terindah di Dunia, Bernilai Seni dan Sejarah!
Tautan berhasil disalinX
x

Keluar dari JalanTikus

Popup External Background JalanTikus

Apakah anda yakin untuk meninggalkan website JalanTikus?

Ya
Batal