J

A

L

A

N

T

I

K

U

S

!

!

  • NONTONYUK!
  • Pasang Iklan
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami
  • Kerjasama
No Name
 

Mengenal Friedrich Silaban, Arsitek Masjid Istiqlal yang Beragama Kristen

Selasa, 23 Feb 2021, 17:00 WIB
Masjid Istiqlal ternyata bukan dirancang oleh seorang muslim, melainkan karya seorang nasrani bernama Friedrich Silaban. Seperti apa kisahnya?

Masjid Istiqlal yang baru saja genap berusia 43 tahun pada tanggal 22 Februari 2021 lalu merupakan kebanggaan Indonesia dengan statusnya sebagai masjid terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara.

Untuk menjaganya tetap dalam kondisi baik dan terawat, pemerintah Indonesia melakukan renovasi besar-besaran selama 14 bulan yang telah rampung pada tanggal 7 Januari 2021.

Friedrich Silaban Masjid Istiqlal 0e455
Sumber foto: Madani News

Bangunan keagamaan yang berdiri megah di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat ini juga merupakan lambang toleransi beragama lantaran letaknya yang berseberangan dengan Gereja Katedral.

Hal ini tentu sudah kamu ketahui, tapi apakah kamu pernah mendengar fakta bahwa arsitek yang mendesain Masjid Istiqlal adalah seseorang yang beragama Kristen?

Ya, Friedrich Silaban, seorang arsitek handal Indonesia yang merupakan sosok dibalik keindahan dan kemegahan Masjid Istiqlal yang penuh dengan makna.

Ars Friedrich Silaban 3a230
Sumber foto: Muslim Obsession

Friedrich lahir di Bonandolok, Sumatera Utara pada 16 Desember 1912 berasal dari keluarga Kristen yang taat di mana ayahnya adalah seorang pendeta.

Bukan anak orang kaya, awalnya ia hanya tamatan sebuah sekolah teknik di Jakarta bernama Koningin Wilhelmina School.

Perjalanannya di dunia arsitektur dimulai saat ia mendapat kesempatan untuk kuliah di Belanda melalui karirnya sebagai seorang Direktur Pekerjaan Umum pada tahun 1947 hingga 1965.

Sepanjang tahun 1949 dan 1950, ia melanglang buana ke lebih dari 30 kota besar di berbagai negara untuk mempelajari arsitektur dari berbagai belahan dunia.

Ketika ia kembali ke Indonesia, Presiden Soekarno yang sekaligus merupakan sahabat baiknya tengah dalam persiapan untuk mewujudkan ide pembangunan sebuah masjid.

Sang presiden tak lantas menunjuk arsitek tertentu termasuk Friedrich - ia mengadakan sayembara untuk membuat desain maket masjid tersebut.

Friedrich yang seorang nasrani hendak mengikuti sayembara tersebut, tapi keyakinannya tersebut sempat membuatnya bimbang lantaran yang akan didesain olehnya adalah sebuah masjid, tempat ibadah umat Islam.

Setelah berbincang dengan Presiden Soekarno, ia mendapat saran untuk menggunakan nama samaran agar tak ada juri yang mempermasalahkan agamanya dan dapat menilai desainnya dengan netral.

Soekarno Dan Friedrich Silaban Afaf3
Sumber foto: Good News From Indonesia

Untuk mencari inspirasi, Friedrich mengunjungi berbagai kota di Indonesia dan melihat desain masjid di dunia sekaligus mempelajarinya.

Pada Harian Kompas edisi Februari 1978, Friedrich mengungkapkan arsitektur yang ia buat untuk Istiqlal adalah murni hasil kreasinya, bukan meniru bangunan manapun - meski ia sendiri tak tahu dari mana ide itu datang.

Ia dan 21 peserta lainnya yang memenuhi syarat kemudian mengikuti sayembara tersebut dengan masing-masing maket diberi sandi. Saat itu, karya Friedrich bertajuk "Ketuhanan".

Mantap mengikuti sayembara desain Masjid Istiqlal tak lantas membuat pergolakan batin Friedrich berhenti, bahkan ia kerap berdoa kepada Tuhan untuk menunjukkan apakah yang ia lakukan benar atau salah.

Jawaban Tuhan ternyata berpihak kepada Friedrich dan bangsa Indonesia, di mana karyanya menjadi pemenang sayembara tersebut dan dipilih Soekarno sebagai rancangan terbaik pada tahun 1955.

Meski sempat ada polemik terkait kemenangannya yang kontroversial, hal tersebut tak berlangsung lama dan karir Friedrich Silaban di bidang arsitektur terus menanjak hingga mencapai puncaknya di tahun 1964.

Masjid Istiqlal memang dirancang oleh seorang umat Kristiani, tapi salah satu arsitek terbaik dalam sejarah Indonesia ini tidak melupakan komponen-komponen penting yang harus ada dalam sebuah masjid, bahkan ia melakukannya dengan sangat mendetail.

Sejarah Masjid Istiqlal 07f69
Sumber foto: Detik

Memadukan simbol-simbol Islam dan kemerdekaan Indonesia, ia mendesain kubah masjid berdiameter 45 meter sebagai simbol tahun kemerdekaan Indonesia dengan ayat kursi yang melingkarinya.

Tiang penopang Istiqlal pun berjumlah 12 yang merupakan tanggal kelahiran Nabi Muhammad SAW yakni 12 Rabiul Awal.

Bangunan Istiqlal dibuat memiliki empat lantai balkon dan satu lantai dasar sehingga memiliki lima lantai yang melambangkan 5 Rukun Islam, jumlah shalat wajib, dan jumlah sila dalam Pancasila.

Tak hanya itu, sebuah menara setinggi 6.666 cm di bagian luar masjid berdiri kokoh sebagai simbol jumlah ayat dalam Al-Qur'an.

Arsitektur Friedrich yang bernuansa kontemporer dan monumental membuat desain Masjid Istiqlal mendobrak arsitektur masjid yang umum digunakan pada era tersebut, yaitu berkiblat kepada arsitektur Timur Tengah.

Setelah menelurkan berbagai karya gemilang, sang arsitek kebanggaan bangsa itu tutup usia pada hari Senin, 14 Mei di 1984 di usia 71 tahun di RSPAD Gatot Subroto - seperti yang diberitakan National Geographic.

Karya-karya Friedrich Silaban lainnya di antaranya adalah Stadion Gelora Bung Karno, Monumen Pembebasan Irian Barat, Tugu Monas, dan Kantor Pusat Bank Indonesia.

Itulah kisah inspiratif Friedrich Silaban, seorang arsitek beragama Kristen yang merancang desain masjid kebanggaan Indonesia, Masjid Istiqlal.

Setelah mengetahui sejarah ini dan dihadapkan dengan fakta bahwa Masjid Istiqlal dapat bersanding indah dengan Gereja Katedral, tidak ada lagi alasan untuk kita tidak bisa hidup berdampingan dan toleran dengan seluruh saudara sebangsa se-Tanah Air, bukan?

Baca juga artikel seputar Out of Tech atau artikel menarik lainnya dari Ayu Kusumaning Dewi.

Langganan Artikel
Temukan Tips dan Berita menarik setiap harinya. GRATIS!

Tags Terkait:

Keluar dari JalanTikus

Popup External Background JalanTikus

Apakah anda yakin untuk meninggalkan website JalanTikus?

Ya
Batal