J

A

L

A

N

T

I

K

U

S

!

!

  • NONTONYUK!
  • Pasang Iklan
  • Hubungi Kami
  • Tentang Kami
  • Kerjasama
No Name
 

Penampakan Langka Hajar Aswad | Asal, Sejarah, dan Foto Batu Surga

Kamis, 6 Mei 2021, 12:15 WIB
Baru-baru ini pengurus Dua Masjid Suci merilis penampakan Batu Hajar Aswad dengan resolusi tinggi. Seperti apa penampakannya?

Baru-baru ini Pemerintah Arab Saudi mengeluarkan foto langka batu hitam Hajar Aswad dari jarak dekat.

Foto ini disebut sebagai gambar langka yang belum pernah dipertunjukkan lantaran memiliki resolusi yang sangat tinggi.

Melansir dari CNN, Presidensi Umum Urusan Masjid Agung Saudi dan Masjid Nabawi menyebut foto langka batu Hajar Aswad ini memiliki ukuran hingga 49.000 MP. Selain itu dibutuhkan 50 jam lamanya untuk membidik dan mengembangkan fotonya.

Bekerja sama dengan agen teknik Dua Masjid Suci, Presidensi Umum mengambil 1.050 foto batu dengan masing-masing foto berukuran 160 GB. Butuh tujuh jam untuk mengambil foto tersebut.

Teknik foto yang dipakai dinamakan sebagai penumpukan fokus. "Mereka menggabungkan sejumlah foto ddengan titik fokus berbeda demi mempertahankan ketajaman hasil akhir foto," terang Digital Photogtaphy School.

"Ini penting karena dalam aktivitas ini belum pernah terjadi sebelumnya," kata Afifi al-Akiti, anggota dalam studi Islam di Universitas Oxford, yang tak terlibat pada proyek tersebut.

"Seseorang melihat bahwa batu itu sebenarnya bukan hitam. Seperti yang saya pahami, ini pertama kalinya ada foto digital Hajar Aswad yang diperbesar dan orang dapat melihat batu itu dari dekat dan secara intim," tambahnya.

Mekah adalah pusat keagamaan Islam lantaran di sanalah Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertamanya di awal abad ke-7. Kota inilah berlokasi Hajar Aswad dan Sumur air Zamzam.

Batu tersebut terbingkai dalam perak murni yang berada di sudut tenggara Ka'bah, bangunan berbentuk kubus yang dibangun Ibrahim bersama putranya, Ismail, berdasarkan penjelasan dalam Al-Qur'an.

Ziarah tahunan terpenting Islam, yakni haji, para jemaah akan berjalan melawan arah jarum jam mengelilingi Ka'bah dan Hajar Aswad.

Peziarah umumnya akan menyentuh, mencium, atau melambai pada Hajar Aswad saat berjalan melewatinya.

"Batu itu awalnya berwarna putih, bukan hitam. Diperkirakan manusia menyentuh batu itu dan meminta pengampunan dari Allah adalah alasan mengapa batu itu menjadi hitam, mencerminkan dosa umat manusia, menurut beberapa sumber-sumber riwayat muslim," tutur Al-Akiti.

Para jemaah mulai mencium batu Hajar Aswad lantaran Umar, khalifah Islam kedua mengatakan kepada para pengikutnya jika dia telah menyaksikan Nabi Muhammad SAW yang melakukannya sendiri.

Sejarah Hajar Aswad

Hajar Aswad Dulu 1c78c

Melansir dari Geologypage, Hajar Aswad adalah artefak peninggalan umat Islam yang berdasarkan tradisi Islam telah ada sejak masa Adam dan Hawa.

Diketahui, batu yang disebut oleh umat muslim berasal dari surga ini awalnya memiliki warna putih.

Manusia menyentuh batu tersebut untuk meminta pengampunan dari Tuhan, sejak itulah Hajar Aswad berubah menjadi kehitaman, warna gelap tersebutlah cerminan dosa umat manusia.

"Batu hitam turun dari surga dan itu lebih putih dari susu, tetapi dosa anak-anak Adam mengubahnya menjadi hitam." (HR Tirmidzi)

Sederhananya, Hajar Aswad adalah batu berwarna gelap yang terpoles halus lantaran tangan jutaan umat Muslim yang melakukan haji dan umrah.

Batu itu terpecah menjadi sejumlah bagian lantaran kerusakan yang ditimbulkan selama Abad Pertengahan.

Namun, potongan pecahan Hajar Aswad kemudian disatukan oleh bingkai perak murni dan diletakkan pada sudut tenggara Ka'bah.

Diameter Hajar Aswad diperkirakan sebesar 30 cm dan berada 1,5 meter di atas tanah.

Ditemukan Nabi Ibrahim

Letak Hajar Aswad C435c

Ada beragam pendapat mengenai apa itu Hajar Aswad sebenarnya. Kaum Muslim menyebut, Hajar Aswad ditemukan Nabi Ibrahim bersama putranya, Ismail, saat mereka mencari batu untuk membangun Ka'bah.

Mereka kemudian menyadari nilainya selanjutnya menjadikan Hajar Aswad sebagai salah satu batu penjuru bangunan.

Sementara, sejarawan sekuler menyebut kalau kemungkinan besar Hajar Aswad adalah sebuah pecahan meteorit.

Namun, belum ada cara demi menguji hipotesis tersebut tanpa memindahkan dan memeriksa Hajar Aswad. Lantaran tindakan itu tidak diperbolehkan oleh penjaga Hajar Aswad.

Banyak ahli geologi seluruh dunia telah mencoba hal terbaik demi memastikan jenis juga sifat Hajar Aswad, tetapi tak dapat mencapai hasil akhir.

Lantaran adanya batasan budaya dan agama yang tidak memungkinkan siapa pun mengebor batu tersebut untuk tujuan ilmiah.

Sifat Hajar Aswad telah sering diperdebatkan. Sifatnya sudah dijelaskan dengan beragam cara seperti batu basal, batu akik, sepotong kaca alam atau meteorit berbatu.

Tim ahli geologi dari Universitas Oxford telah mempelajari sampel lokal yang didapatkan dari emplasemen batu. Mereka menemukan sejumlah penting iridium juga banyak kerucut pecah.

Kondisi tersebut adalah fitur geologi langka yang cuma diketahui terbentuk pada batuan dasar di bawah kawah hasil tumbukan meteorit.

Hal tersebut mirip dengan temuan Paul Partsch yang mengeluarkan sejarah komprehensif pertama Batu Hitam di tahun 1857.

Pada tahun 1974, Robert Dietz dan John McHone menilai kalau batu ini memiliki karakteristik pita difusi yang jelas terlihat pada batu akik.

Para peneliti turut menyebutkan warna batunya hitam legam dan tampak mengkilap lantaran hasil dari disentuhnya permukaan batu secara terus-menerus oleh para jemaah.

Hal tersebut mengesampingkan kemungkinan chondrite (klasifikasi meteorit) yang tak tahan dengan gesekan yang dilakukan terus-menerus.

Hajar Aswad, sekarang terdiri atas delapan buah pecahan dengan beragam ukuran. Enam buah (tambahan) selanjutnya ditemukan di Istanbul dan Turki.

Pada tahun 1294 H. Al-Kurdi menyebutkan ada 15 buah yang terlihat dan sebagian tersembunyi di bawah dempul yang dipakai untuk memperbaiki batu ini.

Apabila ada bagian yang terlepas, maka kemudian ditempelkan di bagian atas batu dengan lilin, musk, juga ambergris yang diremas jadi satu.

Dari mana asal Hajar Aswad?

Hajar Aswad Adalah Allah 81d23

Pada tahun 1980, Elsebeth Thomsen asal Universitas Kopenhagen menilai kalau Hajar Aswad mungkin adalah pecahan kaca atau benturan hasil benturan meteorit yang terpecah sekitar 6000 tahun yang lalu di Wabar, Arab Saudi.

Situs tumbukan meteorit itu berlokasi di Gurun Rub'al Khali yang berada di 1.100 km timur Mekah.

Lokasi ini memiliki balok-balok kaca silika dengan interior berwarna putih atau kuning juga cekungan berisi gas yang memungkinkannya bisa mengapung di air.

Hal itu diduga bertepatan dengan sifat yang dimiliki Hajar Aswad yang juga dapat mengapung di air dan tidak menjadi panas di dalam api.

Namun, dari studi yang dilakukan Survei Geologi Amerika Serikat sudah membuktikan berdasarkan analisis penanggalan Thermoluminescence (TL).

Kalau peristiwa tumbukan Wabar terjadi pada bahkan setelah 250 tahun lalu, sehingga tentu saja Hajar Aswad bukanlah dari Wabar, Arab Saudi.

Sebagian ilmuwan sekuler lainnya menyebut kalau Hajar Aswad merupakan batuan obsidian dari aliran lava yang biasa ditemukan pada Harrat (ladang vulkanik) yang berada di Perisai Arab bagian barat.

Namun, lagi-lagi hipotesis ini tidak tepat, pasalnya Harrat Rahat (Perisai Arab) berada di timur Madina Al-Munnawarrah dan letusan terakhirnya terjadi 1270 M.

Waktu itu, lava mungkin mengalir ke barat menuju Madinah kemudian turun ke utara Wadi, Arab Saudi.

Sehingga, tidak masuk akal apabila lahar di sejumlah titik di Arab barat mendapati air kemudian memadat menjadi obsidian.

Sementara, terdapat banyak pecahan kaca hasil peristiwa tumbukan Wabar di lokasi ini.

Benda tersebut sangatlah padat juga berfungsi secara efektif menjadi kerikil. Analisis kimia memperlihatkan, mungkin 99 persen dari asteroid besi yang berubah menjadi kaca ini terdiri dari 10 persen besi-nikel dan 90 persen pasir lokal.

Kaca memang mempunyai pecahan white impactite (batu pasir semu yang terbentuk secara instan dari gelombang kejut), tetapi permukaannya selalu sangat kasar juga mengapung ketika di bejana.

Lantaran alasan itulah, Hajar Aswad mungkin merupakan batu obsidian. Meskipun ada dugaan mungkin adalah meteorit berbatu yang teramat halus.

Meski demikian, para ahli geologi masih cemas mengungkap mengenai Al-Hajar Al-Aswad lantaran terdapat bukti ilmiah yang tak terbantahkan.

Baca artikel mengenai Sains atau artikel menarik lainnya dari Ilham Fariq Maulana.

BACA JUGA

Kisah 2 Orang Indonesia yang Sukses Jadi Petani Ganja di Luar Negeri

Download Alight Motion Pro MOD APK v3.7.1 Terbaru 2021 | Free & No Watermark!

Waduh, Roket China Seberat 21 Ton Bakal Hantam Bumi!

Download KineMaster Pro MOD APK Terbaru 2021 | No Watermark + Unlimited Feature Unlocked!

7 Artis Indonesia yang Diam-diam Ditaksir Artis Lain | Gagal Dipepet!

ARTIKEL TERKAIT
Penemu Yang Membenci Temuannya Sendiri Banner 1574e
5 Penemu yang Membenci Temuannya Sendiri, Apa Penyebabnya?
Penyebab Kematian Terburuk Menurut Sains Banner 1c498
7 Penyebab Kematian Terburuk Menurut Sains, Bikin Merinding!
Langganan Artikel
Temukan Tips dan Berita menarik setiap harinya. GRATIS!

Tags Terkait:

Keluar dari JalanTikus

Popup External Background JalanTikus

Apakah anda yakin untuk meninggalkan website JalanTikus?

Ya
Batal