3 Kasus Kebohongan yang Libatkan Ilmuwan Indonesia | Sampai Tipu Presiden!

Default

Tidak hanya sumber daya alamnya yang melimpah, Indonesia sebenarnya juga dikaruniai sumber daya manusia yang berkualitas tinggi.

Hal ini dibuktikan dengan keberadaan para ilmuwan terbaik Indonesia. Lewat dedikasi mereka pada dunia Sains, nama Indonesia makin disanjung di dunia internasional.

Akan tetapi, ada beberapa ilmuwan (atau orang yang mengaku ilmuwan) yang membuat beberapa pernyataan atau aksi memalukan karena terbukti bohong dan tidak ilmiah.

Di bawah ini, Jaka berhasil mengumpulkan deretan kasus kebohongan yang dilakukan ilmuwan Indonesia. Penasaran? Simak informasi lengkapnya berikut!

1. Padi Super Toy

Penipuan Ilmuwan Indonesia 1 3a9c5

Pada tahun 2008, Indonesia dihebohkan dengan pemberitaan yang menyebut seorang ilmuwan berhasil membuat varietas padi terbaru hasil persilangan 2 jenis padi yang berbeda.

Menariknya, sang penemu merupakan lulusan Sekolah Tinggi Mesin (STM) yang bernama Tuyung Supriyadi (39). Diketahui, ia cukup ahli di bidang pembenihan. Bahkan, ia mengaku pernah bekerja di perusahaan pembenihan di Korea.

Eksperimen proyek padi Super Toy HL2 ini merupakan hasil persilangan dari rojo lele dan pandan wangi. Diklaim, varietas jenis terbaru ini mampu memproduksi 15 ton padi per hektar.

Padahal, varietas normal pada umumnya hanya mampu memproduksi 5,7 ton padi per hektar. Inilah yang membuat Pemerintah dan seluruh masyarakat antusias.

Bahkan, Presiden RI kala itu, Susilo Bambang Yudhoyono sampai mengirim utusan khususnya untuk meneliti padi Super Toy HL2.

Sebagai pembuktian, proyek ini diperluas secara massal dengan daerah percobaan adalah Desa Grabag, Purworejo.

Sayang, pada tahun 2008, padi Super Toy gagal panen. Yang lebih ironis, ratusan petani yang ikut dalam proyek tersebut mengalami kerugian hingga ratusan juta Rupiah karena gagal panen.

Tim penelitian padi dari Fakultas Pertanian UGM pun turun tangan terhadap kasus ini. Hasilnya sangat mengejutkan!

Ternyata, padi Super Toy yang diklaim super produktif tersebut termasuk dalam kelompok padi tipe lama atau padi Pari Jawa. Padi varietas ini sendiri hanya bisa memproduksi 3-4 ton per hektar. Yah, kena tipu deh!

2. Blue Energy

Penipuan Ilmuwan Indonesia 2 1db15

Buat kamu yang masih ingat, di tahun 2008 Tanah Air juga dikejutkan dengan berita penemuan bahan bakar alternatif (blue energy) oleh Djoko Suprapto.

Dilansir Kumparan, pria asal Nganjuk itu mengklaim bahwa dirinya mampu mengubah air biasa menjadi bahan bakar alternatif (blue energy). Bayangkan, bagaimana mungkin?

Ia pun menyebut 2 alat yang ia gunakan untuk mengonversi air menjadi bahan bakar, yakni alat pembangkit listrik "Jodhipati" dan bahan bakar minyak (BBM) alternatif "Banyugeni". Sekilas seperti penemuan yang nggak disengaja, kan?

Berita ini lantas membuat para ilmuwan tertarik untuk menelitinya, termasuk dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Sayangnya, Djoko Suprapto gagal membuktikan secara ilmiah bahwa air mampu berubah menjadi energi terbarukan lewat alat-alatnya.

Sebaliknya, saat dicek, alat tersebut bukan merupakan pembangkit listrik. Hal itu membuat penelitian terpaksa dihentikan karena diduga mengandung unsur penipuan.

3. Jet Tempur Siluman Eropa

Penipuan Ilmuwan Indonesia 3 29578

Yang paling baru adalah tahun 2017, ketika Indonesia dibuat kagum dengan sosok ilmuwan Indonesia yang tinggal di Belanda bernama Dwi Hartanto.

Dia mengisahkan bahwa saat itu, ia sedang terlibat dalam perancangan jet tempur generasi ke-6. Proyek tersebut merupakan hasil setelah timnya di Airbus sukses mengembangkan pesawat tempur generasi ke-5, Eurofighter Typhoon NG.

Nah, untuk mengembangkan jet tempur generasi ke-6 tersebut, Dwi mengaku melakukan riset berjudul Lethal Weapon in The Sky (Senjata Mematikan di Angkasa).

Tentu saja ini disebut sebagai salah satu temuan terpenting yang melibatkan ilmuwan Indonesia. Bahkan, hasil penelitiannya ini membuat ia dekat dengan pioner penerbangan Indonesia, mantan Presiden B.J. Habibie.

Riset tersebut juga dikatakan membuat ia dan timnya berhasil kompetisi riset teknologi dunia antar Badan Antariksa di Kohln, Jerman.

Sayang, semua yang ia katakan ternyata bohong. Inipun ditemukan saat dirinya diundang sebagai pembicara di Indonesia.

Saat itu, alumni TU Delft di Indonesia tidak berhasil menemukan latar belakang pendidikan seperti yang ia kisahkan di media.

Tak lama setelah itu, Dwi Hartanto memohon maaf karena menyebarkan sejumlah informasi yang ternyata tidak akurat dan cenderung melebih-lebihkan.

Akhir Kata

Itulah ulasan khusus Jaka mengenai kasus-kasus kebohongan yang melibatkan beberapa ilmuwan Indonesia.

Wah parah banget ya, jadi ilmuwan tapi malah menipu banyak orang!

Baca juga artikel seputar Sains atau artikel menarik lainnya dari Diptya.

ARTIKEL TERKAIT
Sin133 F56ff
Vaksin COVID-19 Bisa Memperbesar Penis, Hoaks atau Bukan?
Pageooo 8086d
8 Gorila di Kebun Binatang Ternyata Positif COVID-19, Kok Bisa?
Tautan berhasil disalinX
x

Keluar dari JalanTikus

Popup External Background JalanTikus

Apakah anda yakin untuk meninggalkan website JalanTikus?

Ya
Batal