Ilmuwan Sebut Sinar Matahari Bisa Rusak Virus COVID-19, Berjemur Lawan Corona?

Pandemi virus corona atau COVID-19 saat ini masih terjadi selama lebih setahun ini dan belum diketahui kapan akan usainya. Meski begitu tim ilmuwan dari UC Santa Barbara membawa secercah harapan.

Insinyur mekanik UC Santa Barbara Paolo Luzzatto-Fegiz dalam percobaannya menemukan inaktivasi virus corona beberapa kali lebih cepat daripada yang diperkirakan dalam teori.

"Teori tersebut mengasumsikan bahwa inaktivasi bekerja dengan cara membuat UVB mengenai RNA virus, dan kemudian merusaknya," ujar Luzzatto-Fegiz dalam percobaanya seperti dipublikasikan dalam The Journal of Infectious Diseases.

Ilmuwan tersebut menyatakan, sinar UV, atau bagian spektrum ultraviolet, mudah diserap oleh basa asam nukleat tertentu dalam DNA dan RNA. Sehingga sinar UV ini terikat dengan cara yang sulit diperbaiki.

Semua sinar UV itu disebutkan tidak sama. Gelombang UV yang lebih panjang yang disebut UVA tidak memiliki cukup energi untuk menyebabkan terjadinya masalah.

Sedangkan gelombang UVB jarak menengah di bawah sinar matahari punya kemampuan untuk membunuh mikroba. Tapi kekurangannya, sel tubuh berpotensi rusak akibat sinar matahari.

Selanjutnya radiasi UVC gelombang pendek disebutkan efektif melawan virus seperti SARS-CoV-2 meski radiasinya masih tersimpan dengan aman dalam cairan manusia.

Namun, rekan ilmuwan dan ahli toksikologi Oregon State University, Julie McMurry, mengatakan, jenis UV ini biasanya tidak bersentuhan dengan permukaan bumi karena adanya lapisan ozon.

"UVC sangat bagus untuk rumah sakit, tapi di lingkungan lain - misalnya, dapur atau kereta bawah tanah - UVC akan berinteraksi dengan partikulat dan menghasilkan ozon yang berbahaya," papar McMurry lagi.

Terkait dengan hal ini, Science Alert menyebutkan dalam sebuah studi bahwa simulasi sinar matahari dengan cepat menonaktifkan SARS-CoV-2 di permukaan.

Mereka memperkirakan sebanyak 90 persen virus SARS-CoV-2 dinonaktifkan setiap 10-20 menit. Hal ini mereka dapatkan dalam percobaan air liur disinari matahari di daratan di atas permukaan laut.

Virus Corona Mati 90% dalam 30 Menit

Penelitian Covid 19 89025
Sumber foto: Texastribune.org

Lantas Luzzatto-Feigiz dan timnya membandingkan hasil studinya dengan studi lain yang dirilis beberapa bulan kemudian. Studi ini menyatakan virus SARS-CoV-2 tiga kali lebih sensitif terhadap sinar UV di bawah sinar matahari daripada influenza A.

Sebanyak 90 persen partikel virus corona dikatakan dinonaktifkan setelah terpapar sinar matahari tengah hari di musim panas dalam waktu 30 menit.

Hal ini jauh berbeda dengan musim dingin, di mana partikel infeksius cahaya bisa tetap utuh selama berhari-hari.

Tim peneliti menyimpulkan molekul RNA virus sedang rusak secara fotokimia secara langsung oleh sinar cahaya. Hasilnya lebih kuat melalui panjang gelombang cahaya yang lebih pendek, seperti UVC dan UVB.

Perhitungan paparan cahaya lingkungnya sendiri didasarkan pada bagian gelombang menengah UVB dari spektrum UV. Ini lantaran UVC tidak mencapai permukaan bumi.

"Inaktivasi yang diamati secara eksperimental dalam simulasi air liur lebih dari delapan kali lebih cepat daripada yang diharapkan dari teori. Tapi, para ilmuwan belum tahu apa yang sedang terjadi," tulis Luzzatto-Fegiz.

UVA gelombang panjang diduga mungkin berinteraksi dengan molekul di media pengujian (air liur yang disimulasikan) dengan cara mempercepat inaktivasi virus.

Interaksinya disebutkan mirip seperti pengolahan air limbah. Dalam pengolahan, UVA bereaksi dengan zat lain untuk membuat molekul yang merusak virus.

Luzzatto-Fegiz menyimpulkan jika UVA dapat melawan SARS-CoV-2, sumber cahaya khusus panjang gelombang yang murah dan hemat energi mungkin meningkatkan sistem penyaringan udara dengan minim risiko bagi kesehatan manusia.

"Analisis kami menunjukkan, perlunya eksperimen tambahan untuk menguji secara terpisah efek panjang gelombang cahaya tertentu dan komposisi medium," katanya.

Meski temuan dari ilmuwan menggembirakan, virus corona punya kemampuan melayang di udara dalam waktu yang lama. Oleh sebab itu, kamu tetap harus menerapkan protokol kesehatan seperti menjaga jarak sosial, memakai masker, dan mencuci tangan dengan handsanitizer, ya, geng.

Baca juga artikel seputar Iptek atau artikel menarik lainnya dari Andri Alfansyah.

BACA JUGA

5 Inovasi Teknologi yang Gagal Mengubah Dunia, Mau Untung Malah Buntung!

Ternyata 5 Benda ini Ditemukan Karena Alasan Aneh! | Roller Coaster untuk Menjauhi Dosa?

7 Penemuan Terhebat yang Gak Disengaja, Kecelakaan Membawa Berkah!

5 Objek Sejarah Ini Ditemukan Secara Tak Sengaja! | Gali Sumur Ketemu Makam Kaisar?

ARTIKEL TERKAIT
Tips Di Rumah Aja Banner 01 67465
3 Tips Ampuh Agar Tak Bosan #DiRumahAja Karena Corona
Teknologi Untuk Menghentikan Virus Corona 2a7f3
5 Teknologi Canggih yang Dapat Menghentikan Penyebaran Virus Corona
Masker Canggih 94670
6 Masker Wajah Berteknologi Canggih, Bisa Tangkal Virus Corona?
Teori Konspirasi Corona Banner 88153
7 Teori Konspirasi Virus Corona yang Masih Terus Dipercaya, Kok Bisa?
Banner Jadi A173f
4 Film Korea Tentang Wabah Mematikan, Mirip VIrus Corona!
Tautan berhasil disalinX
x

Keluar dari JalanTikus

Popup External Background JalanTikus

Apakah anda yakin untuk meninggalkan website JalanTikus?

Ya
Batal