Arkeolog Temukan Danau Purba Raksasa di Bumi | Indonesia Bisa Nyemplung Masuk!

Sekitar 10 juta tahun yang lalu, Megadanau Paratethys, danau terbesar dalam sejarah Bumi menutupi area yang lebih besar dari ukuran Laut Mediterania saat ini.

Pada peta modern, megadanau ini mungkin membentang dari Pegunungan Alpen dari atas Italia hingga Kazakhstan di Asia Tengah.

Hingga saat ini, sedikit yang diketahui tentang penyebab surutnya Megadanau Paratethys di masa eksisnya dulu, tetapi sebuah studi baru mengidentifikasi empat siklus bencana yang disebabkan oleh iklim.

Sehingga hal tersebut yang menyusutkan danau dan kemungkinan besar membunuh sejumlah besar spesies yang hidup di dalamnya.

Kehidupan akuatik di Megadanau Paratethys cukup unik, beragam hewan perairan yang aneh mulai dari moluska dan krustasea hingga paus kecil dan lumba-lumba yang berevolusi sesuai dengan lingkungan terbatas mereka.

Namun, ketika tingkat air turun dan kadar garam meningkat, sangat sedikit dari makhluk ini yang bertahan, kata para peneliti seperti dikutip dari Sciencealert.com.

"Itu dunia prasejarah pasca-apokaliptik, versi akuatik dari tanah terlantar dari [film-red] Mad Max," kata ahli geologi Wout Krijgsman dari Universitas Utrecht di Belanda.

Krijgsman dan rekan-rekannya mempelajari catatan fosil, endapan sedimen, dan geologi daerah di sekitar Laut Hitam (di pusat lokasi Megadanau Paratethys dulu).

Penelitan ini untuk mengidentifikasi empat faktor besar penurunan permukaan air selama beberapa juta tahun. Mereka juga membuat pemodelan dan simulasi ketinggian air di seluruh wilayah.

Masa Kekeringan Terbesar

Danau Raksasa Di Dunia D08d3

Penurunan paling parah yang terakhir tercatat, terjadi antara 7,65 juta dan 7,9 juta tahun yang lalu yang bernama periode Pengeringan Khersonian Besar.

Selama masa ini, permukaan air Megadanau Paratethys anjlok hingga 250 meter, membuatnya menjadi danau mini yang mungkin beracun bagi sebagian besar kehidupan akuatik.

Menurut perhitungan para ilmuwan, magadanau ini kehilangan hingga 70 persen luas permukaannya dan hingga sepertiga volumenya selama periode kering tersebut.

Pada puncaknya, pengeringan ini mencakup area seluas sekitar 2,8 juta kilometer persegi, di mana lebih luas dari wilayah Indonesia yang cuma 1,9 juta kilometer persegi.

Luas daerah yang mengering itu juga bisa menampung lebih dari 10 kali jumlah air yang ditemukan di danau di planet ini sekarang.

Pergeseran suhu dan curah hujan di seluruh Eurasia juga memengaruhi perubahan di darat. Lingkungan terbuka menggantikan lingkungan hutan dan jenis hutan pun berubah.

Namun, bagaimana evolusi ini saling mempengaruhi dan mempengaruhi satu sama lain belum sepenuhnya diketahui.

"Pengeringan megadanau parsial selaras dengan perubahan iklim, jaring makanan, dan lanskap di seluruh Eurasia, meskipun pemicu dan mekanisme yang tepat masih harus dicari," tulis para peneliti pada makalah mereka yang telah diterbitkan.

Terjadinya pergeseran tektonik dan munculnya pegunungan Eropa tengah, membuat Megadanau Paratethys bertahan selama sekitar 5 juta tahun secara total.

Catatan geologi menunjukkan, hal tersebut terjadi sebelum perubahan lanskap membuatnya mengering dan mengalir ke Laut Mediterania.

Mengubah Lanskap Flora dan Fauna Bumi

Danau Purba Raksasak 7b8cc

Studi terbaru lainnya menunjukkan bagaimana penurunan permukaan air di sekitar Megadanau Paratethys mengubah garis pantai menjadi padang rumput, menyediakan lahan subur bagi evolusi makhluk darat juga.

Faktanya, keragaman sabana Afrika kemungkinan besar disebabkan oleh migrasi yang didorong oleh periode kekeringan di era tersebut.

Tentu saja, perubahan lanskap dan satwa liar yang didorong oleh iklim tetap menjadi topik yang sangat relevan saat ini, jutaan tahun setelah Megadanau Paratethys mengering.

Setiap penelitian seperti ini adalah pengingat akan ancaman perubahan iklim yang kita hadapi saat ini, dan penelitian itu dapat memberi tahu kita lebih banyak tentang masa depan kita.

"Dampak dan implikasi yang lebih luas dari krisis hidrologi ini, khususnya di luar wilayah Paratethys, masih kurang dipahami," tulis para peneliti pada publikasi ilmiahnya.

Baca juga artikel seputar Sains atau artikel menarik lainnya dari Ilham Fariq Maulana

BACA JUGA

12 Potret Kocak Artis Cantik Saat Tidur Mangap | Tetap Memesona!

Higgs Domino RP APK Versi Lama & Terbaru 2021, Dapat Koin Melimpah!

10 Potret Rumah Tukul Arwana Seharga Rp80 Miliar | Bukti Perjuangan Dari Bawah!

6 Anak Artis Indonesia yang Jadi Aparat Negara | Dari Polisi Hingga Tentara!

100+ Bio IG Keren, Lucu, & Aesthetic 2021, Followers Auto Nambah!

ARTIKEL TERKAIT
Aplikasi Cari Teman Sekitar Terbaik 2020 Banner Ba87c
10 Aplikasi Cari Teman di Sekitar Kita Terbaik 2020, Bisa Dapat Jodoh?
Aplikasi Pencari Kerja 7a188
8 Aplikasi Pencari Kerja Terpercaya & Terbaik, Setiap Hari Ada Loker!
Aplikasi Edit Nama Ac2cf
7 Aplikasi Edit Nama Terbaik & Terbaru 2020 | Nama Makin Kece!
Aplikasi Al Quran Terbaik 277be
12 Aplikasi Al Quran Bahasa Indonesia Terbaik dan Terlengkap 2021
0 Vnxpzxovujy72qvg Custom 5a5dc
Cara Mudah Mengubah Bahasa di Aplikasi Google Classroom di HP & PC
Menerjemahkan Tulisan Lewat Kamera Banner 4ad20
Trik Cepat untuk Menerjemahkan Tulisan Bahasa Asing dengan Kamera, Gak Ribet!
Tags Terkait: Alambumi
Tautan berhasil disalinX
x

Keluar dari JalanTikus

Popup External Background JalanTikus

Apakah anda yakin untuk meninggalkan website JalanTikus?

Ya
Batal