Bumi Makin Panas Lebih Cepat dari Prediksi | Sudah Terlambat untuk Manusia?

Default

Seperti kita tahu, suhu Bumi semakin hari semakin memanas. Namun ternyata, tingkat pemanasan tersebut jauh lebih cepat terjadi daripada prediksi para ilmuwan. Bahkan bisa dibilang kondisi ini sudah terlambat untuk umat manusia.

Mengutip Liputan 6, berdasarkan laporan United Nations (UN) Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) mencatat bahwa suhu Bumi menghangat 1,1 derajat celsius lebih tinggi dari tingkat pra industri. Sekarang ini, suhu Bumi bahkan dengan cepat menghangat 1,5 derajat celsius.

Angka tersebut merupakan ambang batas krisis iklim yang disepakati para pemimpin dunia untuk menghindari dampak yang lebih buruk pada kehidupan di Bumi.

Satu-satunya cara untuk menangani hal ini adalah dengan benar-benar mengurangi emisi gas rumah kaca. Seiring dengan membersihkan karbondioksida dari atmosfer.

"Pada intinya, kita tidak lagi memiliki waktu bertahun-tahun untuk menghindari perubahan iklim, karena itu sudah di sini, kata Michael E. Mann, penulis utama laporan IPCC pada 2001 lalu," seperti dikutip CNN, Kamis (12/8/2021).

Tak seperti laporan sebelumnya, laporan terbaru menunjukkan bahwa tak diragukan lagi bahwa manusialah yang menyebabkan krisis iklim. Bahkan banyak perubahan yang sangat luas dan cepat sudah terjadi. Beberapa di antaranya tak bisa lagi diubah.

Menurut para ilmuwan, hal itu terjadi karena suhu Bumi telah menghangat jauh lebih cepat daripada perkiraan mereka sebelumnya.

Sejak 2018, tepatnya ke IPCC melaporkan betapa pentingnya pengaruh kenaikan suhu 1,5 derajat celsius, emisi gas rumah kaca terus menerus meningkat dan membuat suhu dunia lebih panas.

Bahkan jika kita mengambil skenario IPCC yang paling optimis, di mana emisi dunia turun tajam dan dikurangi hingga 0 pada 2050 mendatang, suhu dunia masih tetap tinggi. Peningkatannya lebih tinggi dari 1,5 derajat celsius sebelum akhirnya bisa turun lagi.

Dalam pernyataannya, Sekjen Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) Antonio Guterres menyebut laporan ini kode merah untuk umat manusia .

"Satu-satunya cara untuk mencegahnya adalah dengan cepat meningkatkan usaha kita dan mengejar jalan yang paling ambisius," kata Guterres.

Api Di Gunung Dekat Gesa Limni Pulau Evia AP Photos E88c8

Sesuatu yang benar-benar terjadi

Beberapa negara sudah mengatakan bahwa mereka akan melakukan pemotongan gas emisi dengan lebih ketat sejak Perjanjian Paris pada 2015 lalu. Namun tetap saja banyak yang melewatkan tenggat waktunya.

Masih ada kesenjangan yang cukup signifikan antara apa yang dijanjikan para pemimpin dunia dan apa yang sebenarnya dibutuhkan pada tahun 2030.

Menurut mantan wakil ketua IPCC Ko Barrett, jika dilihat dari perspektif sains maka setiap derajat sangatlah penting untuk mengurangi dampak yang terjadi akibat perubahan iklim.

Maka dari itu, tak peduli seberapa banyak derajat perubahan yang jadi tujuan tiap negara, semua itu pasti bermanfaat.

Sementara direktur Edinburgh Climate Change Institute Dave Reay meminta semua pemimpin dunia untuk menjadikan laporan terbaru ini sesuatu yang penting. Ia mendorong mereka untuk mengambil langkah darurat terkait hal ini.

"Ini bukan hanya laporan ilmiah biasa. Ini adalah sesuatu yang tidak bisa dihalangi," lanjut Reay.

Gelombang Pasang Di Venesia Italia AP Photos Bdfcf

Sudah tak terbendung

Seiring dengan meningkatkan kemampuan komputasi digital, para peneliti semakin percaya diri untuk menghubungkan antara krisis iklim dan cuaca ekstrem yang sering terjadi akhir-akhir ini.

Untuk beberapa wilayah, bahkan dengan kenaikan suhu yang baru mencapai 1,1 derajat celsius saja, keadaan sudah benar-benar tak terbendung.

Contohnya adalah gelombang panas yang membunuh ratusan orang selama musim panas di US Northwest dan British Columbia. Gelombang panas tersebut hanya bisa terjadi sebagai dampak krisis iklim.

Krisis iklim juga jadi penyebab Badai Harvey yang terjadi semakin parah. Badai ini jadi 3 kali lebih mungkin terjadi dan 15% lebih intens daripada sebelumnya.

Lebih lanjut, IPCC mengatakan bahwa hujan lebat yang biasanya hanya terjadi 10 tahun sekali kini akan terjadi 30% lebih sering.

Di sisi lain, tak hanya hujan lebat dan banjir saja yang datang. Namun juga kekeringan. Secara global, kekeringan yang hanya akan terjadi sekali tiap 10 tahun, kini bisa terjadi 70% lebih sering.

Tak itu saja, karena suhu yang lebih tinggi tentu bisa menyebabkan kebakaran liar yang berlangsung lebih lama serta menyebabkan kerusakan lebih parah.

Sekitar 6 dari 10 kebakaran terbesar di California terjadi pada 2020 dan 2021. Charles Koven, salah satu penulis laporan tersebut mengatakan bahwa California telah mencapai titik paling tinggi mengenai kebakaran hutan. Koven merupakan penulis bab siklus karbon global dalam laporan tersebut.

"Saya rasa kita tidak tahu titik ambang batas (suhu Bumi) tersebut sampai kita benar-benar melewatinya," tutur Koven.

Namun apa yang kita lihat saat ini bukan semua hal yang bisa terjadi nantinya. Menurut ilmuwan di University of Exeter Andrew Watson, apa yang tidak diketahui oleh manusia saat ini akan jauh lebih menakutkan.

Kebakaran Liar Di Doyle California CNN 93fee 78b03

Langkah cepat pengurangan karbon

Dalam laporan setebal 3.500 halaman ini, terdapat hasil penelitian pada ilmuwan di seluruh dunia selama hampir 10 tahun.

Walaupun IPCC selama ini dijadikan sumber utama informasi mengenai perubahan iklim, tapi mereka cenderung masih bertindak secara konservatif.

Khususnya terkait penemuan mereka karena cara penemuan tersebut dikembangkan. Mereka akan meminta ratusan ilmuwan untuk mencapai sebuah konsensus tak hanya mengenai penelitian tersebut tapi juga soal bahasa yang mendeskripsikannya.

Namun begitu, laporan terbaru ini menggunakan kata-kata yang paling kuat untuk mendeskripsikan krisis iklim. Lapisan es meleleh dan akan terus meleleh. Banjir ekstrem akibat permukaan air laut yang terus naik.

Dan juga permukaan air laut yang terus akan meningkat hingga abad ke-22. Semuanya disebabkan suhu panas yang terjebak di dalam lautan.

Di waktu yang sama, para ilmuwan terus membunyikan alarm. International Energy Agency mengatakan bahwa emisi karbon manusia akan meningkat sebesar 1,5 miliar ton pada 2021. Peningkatan ini merupakan yang kedua terbesar dalam sejarah.

Laporan IPCC dengan jelas mengatakan bahwa pemimpin global harus mengurangi emisi gas global sekarang. Sebelum perubahan cuaca ekstrem akan semakin parah, yang tentu saja membuat pencegahan jadi lebih mahal serta mematikan.

Namun, Barrett mengatakan bahwa pesan utama dalam laporan tersebut adalah setiap cara pencegahan masih mungkin dilakukan untuk mencegah dampak pemanasan global paling parah untuk terjadi.

"Dibutuhkan perubahan transformasional yang belum pernah terjadi sebelumnya, pengurangan emisi gas rumah kaca yang cepat dan segera menyentuh angka 0 pada 2050. Gagasan bahwa masih ada jalan ke depan adalah titik yang seharusnya memberi kita harapan," tegas dia.

BACA JUGA

5 Hewan yang Punah Akibat Kejadian Konyol | Bikin Nggak Habis Pikir!

Download Alight Motion Pro MOD APK v3.9.0 Terbaru 2021 | Free & No Watermark!

Pengakuan Pria yang Pamer Saldo ATM Rp11 Triliun di TikTok | Bukan Uang Sendiri?

Higgs Domino RP APK Versi Lama & Terbaru 2021, Dapat Koin Melimpah!

Heboh Penampakan Benda Asing di Bandung | UFO atau Penampakan Dewata?

ARTIKEL TERKAIT
Dry 856544 1280 22e20
Pemanasan Global Ekstrem Diprediksi Terjadi Tahun 2030, Ekosistem Dunia Terancam Hancur
Untitled Design 2021 04 19t135759 561 373eb
7 Negara Ini Akan Hilang di Masa Depan | Perubahan Iklim dan COVID-19 Jadi Sebab!
Gunung Es Mencair 2020 Aa7fd
Batu Kecil Kehijauan Ini Jadi Peringatan Perubahan Iklim | Antarktika Mencair?
Mitos Hujan Es Batu 5a65d
Yogyakarta Dijatuhi Hujan Es Dua Hari! | Akibat Perubahan Iklim?
Bencana Alam Paling Mematikan Dalam Sejarah Banner Ffbc2
5 Bencana Alam Paling Mematikan Dalam Sejarah, Banyak Korban Berjatuhan!
Bencana Alam Terdahsyat Di Indonesia Bf2b8
5 Bencana Alam Terdahsyat di Indonesia, Ratusan Ribu Korban Jiwa!
Tautan berhasil disalinX
x

Keluar dari JalanTikus

Popup External Background JalanTikus

Apakah anda yakin untuk meninggalkan website JalanTikus?

Ya
Batal