Bakteri dan Virus Purba yang Terkurung di Dalam Es Perlahan Bangun | Dampak Global Warming?

Default

Selama ini, manusia memang harus hidup berdampingan dengan bakteri dan virus. Kamu pasti familiar dengan banyak di antaranya, apalagi yang sudah terbukti menyebabkan penyakit untuk manusia.

Banyak di antara bakteri dan virus yang tak terlampau berbahaya bagi manusia. Namun ada pula yang sangat berbahaya. Salah satunya seperti yang sedang kita hadapi saat ini, yakni virus Covid-19.

Seiring berjalannya waktu, manusia bisa memberi respon yang baik terhadap serangan bakteri dan virus tersebut. Entah itu dalam bentuk vaksin atau kekebalan tubuh kita.

Seperti halnya manusia yang selalu beradaptasi menghadapi bakteri dan virus, mereka juga berevolusi untuk melawan antibiotik yang kita ciptakan. Pertarungan melawan bakteri dan virus pun terus berlanjut. Tak jarang bahkan menemui jalan buntu.

Kabar tak mengenakkan seputar bakteri dan virus pun kembali datang. Kali ini bukan varian baru yang muncul, tapi bakteri dan virus berumur ribuan tahun. Mereka sudah ada jauh lebih dulu daripada manusia, hanya saja kita baru akan bertemu pertama kali.

Bakteri Dan Virus Purba BBC 0b559

Seperti dilansir BBC, global warming bisa dibilang jadi salah satu sebab pertemuan manusia dan bakteri serta virus dari ribuan tahun lalu ini. Perubahan iklim akibat pemanasan global mengakibatkan mencairnya tanah berlapis es yang sudah beku sejak ribuan tahun lalu.

Seiring dengan melelehnya tanah berlapis es tersebut, bakteri dan virus purba yang sebelumnya terperangkap di sana akan kembali aktif serta terlepas ke dunia luar.

Bukan Hanya Sekali Terjadi

Salah satu contohnya adalah pada Agustus 2016. Terjadi wabah anthrax yang menyerang banyak rusa kutub di Semenanjung Yamal, di Siberia.

Banyak rusa kutub yang mati. Belum lagi kasus pada manusia, 1 anak meninggal dan 20 orang lainnya masuk rumah sakit.

Penyebabnya? Dipercaya bahwa sekitar 75 tahun yang lalu, seekor rusa kutub terinfeksi anthrax. Hewan itu pun mati, sementara bangkainya terperangkap dalam keadaan membeku di lapisan bawah tanah berlapis es, disebut juga permafrost.

Bangkai rusa kutub tersebut tetap ada di sana sampai terjadinya gelombang panas pada musim panas 2016. Itu menyebabkan lapisan permafrost tersebut mencair.

Bangkai rusa kutub itu pun tidak lagi terperangkap dalam es, sehingga virus anthrax yang ada di dalam tubuhnya kembali lepas dan masuk ke dalam air serta tanah di sekitarnya.

Karena sudah ada di dalam tanah dan air, tentu saja virus tersebut menginfeksi suplai makanan masyarakat yang ada di sana.

Kejadian tadi dikhawatirkan bukanlah kejadian yang sekali terjadi. Kejadian ini akan terus terjadi seiring dengan bumi yang semakin hangat, dan permafrost yang akan mencair.

Global warming

Dalam keadaan normal, lapisan permafrost paling atas biasanya akan meleleh sekitar 50 cm setiap musim panas. Namun karena pemanasan global yang terjadi, proses pelelehan itu terjadi jauh lebih cepat dan lapisan tanah yang mencair pun jadi jauh lebih dalam.

Lapisan tanah es ini jadi tempat yang paling sempurna untuk bakteri agar tetap hidup dalam waktu yang lama. Bahkan bisa mencapai jutaan tahun lamanya.

Itu artinya, melelehnya es bisa diibaratkan sebagai membuka kotak Pandora yang berisi banyak penyakit. Apalagi suhu di Lingkaran Arktik meningkat dengan sangat cepat, sekitar 3 kali lebih cepat dari seluruh dunia.

Rusa Kutub 81f9f

"Permafrost adalah tempat yang bagus untuk mengawetkan mikroba dan virus. Karena di sana dingin, tidak ada oksigen, dan gelap," kata ahli biologi evolusi di Aix-Marseille University Perancis Jean-Michel Claverie mengutip BBC, Selasa (3/8/2021).

"Virus patogen yang bisa menginfeksi manusia atau hewan mungkin sudah terawetkan di lapisan permafrost, termasuk beberapa di antaranya yang pernah menyebabkan pandemi global di masa lalu," sambung Claverie.

Ketakutan terbesar

Namun ketakutan terbesar adalah apa lagi yang tersembunyi di bawah lapisan tanah beku itu? Manusia dan hewan telah dikubur di bawah permafrost selama ribuan tahun. Sehingga mungkin saja ada lebih banyak hal berbahaya yang bisa terlepas ke dunia.

Misalnya, para ilmuwan sempat menemukan fragmen RNA dari virus Spanyol yang sempat mewabah di dunia pada tahun 1918. Mereka menemukannya di kuburan massal yang ada di Alaska. Wabah cacar air dan pes pun mungkin saja terkubur di Siberia.

Bakteri-bakteri yang ditemukan dalam beragam penelitian pun tak sedikit yang ternyata bisa hidup kembali.

Pada penelitian tahun 2005 misalnya, ilmuwan NASA berhasil menghidupkan kembali bakteri yang sebelumnya terjebak di dalam kolam beku di Alaska selama 32.000 tahun.

Selain kasus tersebut, ada pula bakteri berusia 8 juta tahun dan 100.000 tahun yang berhasil hidup kembali. Keduanya selama ini terjebak membeku di bawah lapisan gletser di lembah Beacon dan Mullins di Antartika.

Tak Semua Bakteri

Namun ternyata, tak semua bakteri bisa kembali hidup setelah membeku di permafrost. Bakteri anthrax misalnya, bisa kembali hidup karena mereka membentuk spora.

Spora ini membuat bakteri tersebut sangat kuat dan bisa membuat mereka bertahan di situasi beku selama lebih dari 1 abad lamanya. Beberapa bakteri lain yang bisa membentuk spora di antaranya adalah tetanus dan Clostridium botulinum.

Es Yg Meleleh Af44d

Tak Hanya Disebabkan Global Warming

Celakanya, bukan hanya global warming yang harus kita khawatirkan. Claverie menjelaskan bahwa aktivitas penggalian di wilayah tertentu bisa menyebabkan lepasnya bakteri dan virus yang selama ini terkurung.

Saking berbahayanya, bisa saja aktivitas tersebut melepaskan virus raksasa yang pernah jadi biang kerok untuk pandemi serta wabah di masa lalu.

Bisa saja virus-virus yang pernah menginfeksi manusia pertama yang tinggal di Arktik kembali muncul.

"Kemungkinan bahwa kita bisa terkena virus dari orang Neanderthal yang telah lama punah membuktikan bahwa virus mungkin tidak pernah hilang dari dunia. Itu mengapa kita harus menjaga stok vaksin untuk berjaga-jaga," tukas Claverie.

Sulit Ditangani

Ketakutan semakin besar ketika banyak ahli yang mengungkapkan bahwa bakteri dan virus purba yang muncul kembali ini tak semuanya bisa ditangani dengan antibiotik biasa.

Misalnya, bakteri bernama Paenibacillus sp. LC231 yang bisa bertahan terhadap lebih dari 70 persen antibiotik yang kita miliki. Bakteri ini bahkan bisa menonaktifkan antibiotik tersebut.

Dipercaya ketahanan bakteri-bakteri tersebut disebabkan evolusi mandiri untuk bertahan hidup di kondisi ekstrem. Hal serupa bisa saja terjadi pada bakteri serta virus lainnya.

Lantas, seberapa besar kita harus khawatir soal ini?

Ada pihak yang bilang bahwa kita tak perlu khawatir berlebihan soal ini. Lebih baik berfokus pada penanganan global warming dahulu.

Sementara pihak lain menegaskan kita tetap harus waspada terhadap risiko munculnya bakteri dan virus ini. Kamu sendiri termasuk bagian kelompok yang mana?

BACA JUGA

7 Foto Miris yang Menunjukkan Perubahan Kondisi Bumi, Ada Indonesia Juga

8 Potret Transgender Miliuner Pertama dan Satu-satunya di Asia | Bos Bisnis Media di Thailand

75+ Nada Dering WA Terbaru & Terlengkap 2021, Gratis!

Higgs Domino RP APK Versi Lama & Terbaru 2021, Dapat Koin Melimpah!

Wanita Ini Pecahkan Rekor Mulut Terbesar di Dunia | Keren atau Malah Menyeramkan?

ARTIKEL TERKAIT
Banner Jadi 38f1f
Ngeri! 5 Kota yang Ditinggalkan Karena Wabah dan Penyakit Mematikan
Ikan Purba Yang Masih Hidup Di Indonesia Banner F3db7
3 Ikan Purba yang Masih Hidup di Indonesia, Ada yang Predator Ganas!
Page3 617b5
5 Kota Purba yang Ternyata Masih Dihuni Manusia, Bukan Cuma Imajinasi!
Manusia Purba Yang Ditemukan Di Indonesia 45bee
5 Manusia Purba yang Ditemukan di Indonesia, Siapa Saja?
Danau Raksasa Purba A018c
Arkeolog Temukan Danau Purba Raksasa di Bumi | Indonesia Bisa Nyemplung Masuk!
Ikan Purba Eaf5a
Dikira Punah 420 Juta Tahun Silam, Ikan Purba Ini Masih Hidup!
Tautan berhasil disalinX
x

Keluar dari JalanTikus

Popup External Background JalanTikus

Apakah anda yakin untuk meninggalkan website JalanTikus?

Ya
Batal