Ilmuwan Deteksi Badai Luar Angkasa Pertama di Kutub Utara | Berbahayakah?

Untuk pertama kalinya, para astronom mendeteksi badai plasma yang kuat, selebar 600 mil (1.000 kilometer) di atas atmosfer Bumi. Sebuah fenomena yang mereka sebut sebagai "badai luar angkasa."

Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan di jurnal Nature Communications pada Februari lalu, badai luar angkasa ini berkecamuk selama hampir 8 jam, berputar sepanjang ribuan kilometer di atas Kutub Utara.

Badai ini terbuat dari garis medan magnet dan angin matahari yang terbang cepat. Badai ini pun disebut-sebut tidak dapat terlihat dengan mata telanjang.

Namun, empat satelit cuaca yang melewati Kutub Utara mendeteksi formasi yang tidak berbeda dengan badai cuaca pada umumnya.

Fenomena alam itu berbentuk seperti corong dengan "mata" yang tenang di tengahnya, dikelilingi oleh beberapa lengan spiral plasma yang berputar berlawanan arah jarum jam. Bukannya hujan air, badai antariksa menghujani elektron langsung ke atas atmosfer Bumi.

Badai Matahari 2012 4c0f0
Sumber foto: Qing-He Zhang/Shandong University

"Hingga saat ini, belum pasti bahwa badai plasma luar angkasa itu ada. Jadi bisa membuktikan hal ini dengan pengamatan yang mencolok itu luar biasa," kata rekan penulis studi Mike Lockwood, ilmuwan luar angkasa di University of Reading di Inggris seperti dikutip dari Space.com.

"Badai tropis dikaitkan dengan energi dalam jumlah besar dan badai antariksa ini harus diciptakan oleh transfer energi angin matahari yang sangat besar dan cepat serta partikel bermuatan ke atmosfer atas Bumi," tambahnya.

Dengan menggunakan model badai 3D, para peneliti berhipotesis bahwa formasi tersebut dihasilkan dari interaksi kompleks antara angin matahari yang masuk (angin kencang berkecepatan tinggi yang dilepaskan oleh matahari) dan medan magnet di atas Kutub Utara.

Meskipun ini adalah badai antariksa pertama yang diamati, para peneliti berhipotesis bahwa sistem "cuaca" ini dapat menjadi peristiwa umum di planet mana pun dengan pelindung magnetik dan plasma di atmosfernya.

Badai Matahari 2020 Ce886

"Plasma dan medan magnet di atmosfer planet ada di seluruh alam semesta, jadi temuan menunjukkan badai antariksa harus menjadi fenomena yang tersebar luas," kata Lockwood.

Haruskah kita takut akan badai luar angkasa? Mungkin tidak. Fenomena luar angkasa di atas atmosfer itu menimbulkan sedikit ancaman bagi planet kita.

Namun, itu dapat memengaruhi kondisi luar angkasa yang ada, misalnya meningkatnya hambatan pada satelit, mengganggu sistem komunikasi GPS, dan radio.

Baca juga artikel seputar Iptek atau artikel menarik lainnya dari Ilham Fariq Maulana.

BACA JUGA

7 Artis Indonesia yang Nikah dengan Kru TV | Mas Pur Hingga Menteri

15 Aplikasi Penghasil Uang Tercepat 2021, Langsung Cair & Terpercaya!

5 Video Klip Artis Indonesia yang Dituding Plagiat K-Pop | Terbaru Young Lex

16 HP RAM 4GB Murah & Terbaik 2021, Main PUBG Auto Rata Kanan!

Misteri Segitiga Bermuda Terpecahkan | Pesawat dan Kapal Terhisap?

ARTIKEL TERKAIT
Untitled Design 2021 02 12t163838 330 3010d
7 Artis Indonesia yang Menikah dengan Teman Sekolahnya, Teman Tapi Menikah!
Artis Indonesia Di Luar Negeri 140d6
10 Orang Indonesia Ini Jadi Artis di Luar Negeri, Tak Dihargai di Tanah Air?
Untitled Design 2021 02 10t155304 121 56944
7 Artis Indonesia yang Pernah Terjerat Utang Besar, Sampai Dipenjara!
Untitled Design 2021 02 10t125159 104 675aa
5 Artis Indonesia yang Ngamuk di Acara TV, Emosi Hingga Lepas Kendali?
Tags Terkait: luar angkasa
Tautan berhasil disalinX
x

Keluar dari JalanTikus

Popup External Background JalanTikus

Apakah anda yakin untuk meninggalkan website JalanTikus?

Ya
Batal